Lifestyle

Studi: Ranitidine Dapat Memicu Kanker Ketika Bertemu Asam Lambung

Share the knowledge

Di AS, ranitidine dijual dengan merek Zantaq, yang kini telah ditarik dari peredaran oleh sejumlah perusahaan farmasi. Seserius itukah? Baca artikelnya hingga akhir. (Gambar dari: YouTube)

Di AS, ranitidine dijual dengan merek Zantaq, yang kini telah ditarik dari peredaran oleh sejumlah perusahaan farmasi. Seserius itukah? Baca artikelnya hingga akhir. (Gambar dari: YouTube)

Tiga rantai farmasi terbesar di AS telah berhenti menjual Zantac dan alternatif generiknya, setelah Badan POM negeri ini (FDA) memperingatkan bahwa obat tersebut mungkin mengandung bahan pemicu kanker. Di Indonesia, alternatif generiknya dikenal luas sebagai Ranitidine, obat maag.

Tiga farmasi besar Amerika Serikat (AS): Walgreens, Rite Aid, dan CVS; menarik Zantac dari peredaran setelah FDA memperingatkan bulan ini (Oktober 2019) bahwa obat sejuta umat itu mungkin mengandung zat pengotor berbahaya.

Investigasi yang dilakukan CBS News mengungkapkan, ini bahkan mungkin bukan sekadar “ketidakmurnian”, melainkan sesuatu yang jauh lebih serius.

Di sebuah laboratorium di Connecticut, yang disebut Valisure, para peneliti menguji obat-obatan dari apotek daringnya sendiri untuk memeriksa kemurnian dan kualitasnya. Musim semi lalu, mereka memutuskan menganalisis beberapa obat “heartburn” (asam lambung).

Ini dilakukan untuk melihat apakah obat-obatan tersebut mengandung bahan kimia yang disebut NDMA, yang kemungkinan bersifat karsinogen (mengandung bahan pemicu kanker). Bahan kimia yang sama diketahui telah menyebabkan penarikan kembali beberapa pil tekanan darah pada 2018.

“Ranitidine, bahan aktif dalam Zantac, bagi kami tampaknya merupakan molekul yang secara fundamental tidak stabil,” kata CEO Valisure David Light kepada CBS News. Light mengatakan hal tersebut kepada FDA dan mencurigai bahwa masalahnya bukan hanya ketidakmurnian tetapi apa yang dapat terjadi pada pil di dalam tubuh.

Postcomended   Aset First Travel Rp 900 M Dirampas Negara, Tapi Tak Dikembalikan ke Jamaah

“Dalam berbagai kondisi –kondisi laboratorium, kondisi tubuh manusia– dapat memecah dan kemudian membentuk karsinogen, NDMA,” kata Light.

Ranitidine oleh Tubuh Dipecah Menjadi Karsinogen

Kemungkinan bahwa Ranitidine dapat diubah menjadi NDMA di dalam tubuh diungkapkan tiga tahun lalu dalam penelitian yang diterbitkan oleh profesor Universitas Stanford William Mitch dan rekannya, Teng Zeng, dari Universitas Syracuse.

Dalam satu penelitian kecil, 10 sukarelawan diberi tablet Zantac. Pengujian urin menemukan tingkat NDMA lebih dari 400 kali lebih besar dari apa yang menurut FDA dapat diterima. Bahkan setelah menyesuaikan diri dengan protokol FDA baru untuk mengukur NDMA, Mitch mendapat hasil yang sama.

Pada September, tiga bulan setelah Valisure pertama kali memberi tahu FDA tentang temuannya, badan ini mengeluarkan peringatan keselamatan; mengatakan pengujiannya sendiri menemukan “tingkat rendah” NDMA pada Ranitidine.

Namun sekarang FDA menyebut tingkat-tingkat itu “tidak dapat diterima”, dan mengatakan kepada CBS News bahwa sekarang sedang menyelidiki apa yang terjadi pada Ranitidine di dalam tubuh setelah terkena asam lambung.

Postcomended   CEO Google: Kami Tidak Kembangkan AI untuk Senjata #suruhgoogleaja

“Apa yang telah kami petisikan adalah untuk penarikan kembali semua produk Ranitidine, tak peduli apakah itu merek atau generic, siapa yang membuatnya atau berapa nomor lotnya,” kata Light.

Pembuat Zantac, Sanofi, mengatakan kepada CBS News bahwa studi Mitch memiliki keterbatasan dan bahwa perusahaan bekerja sama dengan FDA dan melakukan “pengujian yang kuat”. Sementara Zantac masih dijual, beberapa pembuat generik telah mengeluarkan penarikan sukarela.

Apakah ada hubungan antara Zantac dan kanker? Tidak, tetapi Memorial Sloan Kettering, salah satu pusat kanker top dunia, telah mengeluarkan Ranitidine dari rak apoteknya saat menyelidiki apakah ada bukti bahwa pasien yang menggunakan Ranitidine lebih rentan terhadap jenis kanker tertentu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sementara itu Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) menyebutkan bahwa obat tukak lambung dan tukak usus yang mengandung ranitidin akan berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi di atas ambang batas per hari. Studi global menyebutkan, nilai ambang batas cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake).

“Bahan ini akan bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama,” sebut BPOM dalam keterangan yang dipublikasikan di situs resminya, Rabu (9/10). BPOM hanya meminta industri menarik secara sukarela apabila terdapat kandungan cemaran melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Namun untuk lebih yakin, sebaiknya berkonsultasi ke dokter.

Postcomended   Media Terheran-heran Gedung Putih Gunakan "Enter Sandman" pada Acara Resmi Kepresidenan

BPOM sendiri diketahui telah menarik lima merek obat mengandung ranitidine karena mengandung NDMA. Mereka adalah: Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL yang diedarkan PT Phapros Tbk, Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL yang diedarkan PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/5mL yang diedarkan oleh PT Global Multi Pharmalab Indoran, Cairan Injeksi 25 mh/mL yang diedarkan PT Indofarma, dan Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL yang diedarkan PT Indofarma.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top