Studi: Tanah Adat Kunci Selamatkan Keanekaragaman-hayati dari Ancaman Kepunahan Massal

Internasional
Share the knowledge

Seorang warga suku Baduy Dalam, yang hidup di tanah adat yang dilindungi negara. Menurut penelitian di tiga negara besar, tanah adat akan menjadi kunci bagi terselamatkannya keanekaragaman-hayati dari kepunahan masal (gambar ilustrasi dari: https://www.youtube.com/watch?v=WgCdg3dO8sg)
Seorang warga suku Baduy di Lebak Banten, yang hidup di tanah adat yang dilindungi negara. Menurut penelitian yang dilakukan di tiga negara besar, tanah adat akan menjadi kunci bagi terselamatkannya keanekaragaman-hayati dari kepunahan masal (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=WgCdg3dO8sg)

Di tengah banyak negara gagal memenuhi target nominal perlindungan tanah, tanah yang dikelola masyarakat adat dapat menjadi kunci untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati planet ini, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Policy.

Saat ini, Bumi berada dalam cengkeraman apa yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai “Kepunahan Masal Keenam” dengan tingkat kepunahan spesies global setidaknya “puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi” daripada rata-rata selama 10 juta tahun terakhir, laporan utama PBB menyebutkan hal tersebut belum lama ini.

Selain itu, seperti telah dilansir laman Newsweek, sekitar satu juta spesies telah menghadapi kepunahan, banyak yang dalam beberapa dekade ini saja. Ini dapat dicegah jika diambil tindakan mengurangi intensitas pendorong hilangnya keanekaragaman hayati, yang mencakup faktor-faktor seperti konversi lahan, hilangnya habitat, dan perubahan iklim.

Di tengah krisis ekologis ini, para penulis studi terbaru tersebut mengatakan, banyak negara gagal memenuhi target nominal untuk perlindungan tanah. Namun, penelitian mereka menunjukkan bahwa tanah yang dikelola penduduk asli merupakan satu jalan di mana target dapat dipenuhi.

Untuk penelitian tersebut, para peneliti — dipimpin oleh tim dari University of British Columbia (UBC), memeriksa data lahan dan spesies dari tiga negara terbesar di dunia (Australia, Brasil, dan Kanada).

Mereka menemukan bahwa tanah yang dikelola bersama oleh masyarakat adat cenderung mengandung lebih banyak spesies vertebrata daripada kawasan lindung yang ada, seperti cagar alam, yang pada gilirannya memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi daripada daerah yang tidak dilindungi.

Postcomended   Akibat Iklan Kontroversial, Saham Nike Turun Namun Ramai Dibeli via Aplikasi

“Ini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan lahan dari banyak masyarakat adat yang telah menjaga jumlah spesies tetap tinggi,” Richard Schuster dari Universitas Carleton (sebelumnya dari Departemen Ilmu Hutan dan Konservasi di UBC,) mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Ke depan, berkolaborasi dengan pengurus tanah adat kemungkinan akan sangat penting dalam memastikan bahwa suatu spesies akan bertahan hidup dan berkembang.” Menurut para peneliti, tidak ada penelitian sebelumnya yang membandingkan keanekaragaman hayati dan pengelolaan lahan di seluruh wilayah geografis yang demikian luas.

“Kami melihat tiga negara dengan iklim dan spesies yang sangat berbeda, untuk melihat apakah pola tersebut berlaku di seluruh wilayah yang berbeda ini, dan memang benar,” Ryan Germain, salah seorang penulis studi dari Cornell University, mengatakan dalam pernyataan itu.

Mulai katak dan burung penyanyi hingga mamalia besar seperti beruang grizzly, jaguar, dan kanguru, keanekaragaman hayati, kata Germain, menjadi yang terkaya di tanah yang dikelola oleh penduduk asli. Temuan menunjukkan bahwa bekerja dengan masyarakat adat di seluruh dunia dapat membantu mengatasi kekurangan dalam perlindungan habitat global, sehingga mengurangi risiko hilangnya keanekaragaman hayati.

Postcomended   28 Mei dalam Sejarah: Gara-gara Gerhana Matahari, Satu Pertempuran pada 585 SM Mendadak Terhenti

“Kawasan lindung adalah landasan konservasi keanekaragaman hayati secara global, tetapi tingkat perlindungan saat ini tidak cukup untuk menghentikan krisis kepunahan planet,” kata Peter Arcese, penulis senior studi dari University of British Columbia, dalam pernyataannya.

“Kita harus mengelola sebagian besar wilayah dunia dengan cara yang bersifat melindungi spesies dan mengarah pada hasil positif bagi manusia dan spesies yang mereka andalkan selama ribuan tahun.”

Laporan komprehensif AS yang diterbitkan Mei –dikenal sebagai Laporan Penilaian Global tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem– adalah penilaian keanekaragaman hayati global pertama sejak 2005, disatukan oleh 150 ahli terkemuka dari 50 negara.

Pada peluncuran laporan tersebut, Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Audrey Azoulay, mengatakan, penelitian ini menyoroti urgensi dari situasi kita saat ini bahwa melindungi keanekaragaman hayati sama pentingnya dengan memerangi perubahan iklim.

“Setelah adopsi laporan bersejarah ini, tidak ada yang akan dapat berdalih bahwa mereka tidak tahu,” katanya. “Kita tidak bisa lagi terus menghancurkan keanekaragaman kehidupan. Ini adalah tanggung jawab kita terhadap generasi masa depan.”

Lima Penyebab Runtuhnya Ekosistem 

Laporan tersebut mengidentifikasi lima pendorong utama yang telah secara signifikan mengubah ekosistem dan memengaruhi keanekaragaman hayati selama setengah abad terakhir. Kelima hal tersebut adalah: perubahan penggunaan lahan dan laut; eksploitasi langsung organisme; perubahan iklim; polusi, dan invasi spesies asing.

Postcomended   Burung Gagak Dilatih Punguti Sampah untuk Dibayar

Meskipun muncul dengan solusi untuk mencegah kepunahan massal, mungkin sulit dipahami ketika pada 2017 tim ilmuwan internasional mengusulkan rencana ambisius yang dikenal sebagai “Kesepakatan Global untuk Alam” yang bertujuan membantu melestarikan spesies Bumi, sambil juga memastikan target iklim terpenuhi.

Baru-baru ini, para ilmuwan yang sama menetapkan serangkaian target dan tonggak spesifik yang mereka yakini akan membantu melindungi keanekaragaman hayati Bumi dan menghindari keruntuhan ekosistem, selain mengurangi dampak terburuk dari perubahan iklim.***


Share the knowledge

Leave a Reply