Studi Terbaru Tak Yakin Daging Merah dan Olahan Dapat Picu Kanker dan Jantung

Lifestyle
Share the knowledge

 

Mengurangi daging merah adalah saran medis standar untuk mencegah penyakit kanker dan jantung. Namun satu studi terbaru menyebutkan bukti hanya sedikit. (gambar dari; https://www.youtube.com/watch?v=omxwejSctmY)
Mengurangi daging merah adalah saran medis standar untuk mencegah penyakit kanker dan jantung. Namun satu studi terbaru menyebutkan bukti hanya sedikit. (gambar dari; https://www.youtube.com/watch?v=omxwejSctmY)

Konsumsi daging merah apalagi olahan, telah lama dikaitkan dengan gangguan kesehatan. Mengurangi daging merah adalah saran medis standar untuk mencegah penyakit kanker dan jantung. Namun studi terbaru adalah kabar gembira bagi penyuka daging olahan sekalipun. Meski begitu, organisasi kanker tak mau mengubah sarannya.

Tinjauan terhadap puluhan studi yang dilakukan baru-baru ini, telah menyimpulkan bahwa risiko potensial terhadap kedua penyakit tersebut terbilang rendah dengan bukti yang tidak pasti. Bahkan terhadap daging merah yang teah diolah pun.

Dalam pedoman yang diterbitkan Senin (1/10/2019) dalam Annals of Internal Medicine, sebuah panel peneliti dari tujuh negara, menyarankan agar “orang dewasa melanjutkan mengonsumsi daging merah yang belum diproses saat ini”, laman AFP melaporkan.

Saran itu –yang langsung mendapat reaksi tajam dari para ahli lain– menambahkan bahwa orang dewasa juga harus “melanjutkan konsumsi daging olahan”.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal yang diedit oleh American College of Physicians, menganalisis beberapa studi yang, secara bersama-sama, menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi daging merah sebanyak tiga porsi per minggu dapat menurunkan angka kematian akibat kanker sebanyak tujuh kematian per 1.000 orang.

Postcomended   Gula Menghancurkan Reputasi Minuman Sehat Ini

Para peneliti mengatakan, setiap penurunan seperti itu (adalah hal yang) sederhana, dan bahwa mereka hanya menemukan tingkat kepastian “rendah” atas statistik tersebut. Mereka menegaskan, kualitas bukti yang menghubungkan daging olahan dengan penyakit kardiovaskular dan diabetes “sangat rendah”.

Memang terjadi pengurangan. Bradley Johnston, profesor epidemiologi di Universitas Dalhousie Kanada dan direktur kelompok NutriRECS yang menyusun pedoman, mengatakan kepada AFP, “Ada pengurangan risiko yang sangat kecil pada kanker, penyakit jantung dan diabetes, namun buktinya tidak pasti,”

“Jadi, mungkin (memang) ada pengurangan, atau mungkin (juga) tidak ada,” ujarnya. Menurut dia, orang-orang perlu membuat keputusan sendiri. “Kami memberi mereka perkiraan kebenaran terbaik.”

Steak dan Sosis Kembali ke Menu? 
Para peneliti ini mengatakan, mereka ingin mengubah pendekatan “gaya lama” dengan memberikan rekomendasi nutrisi umum, dan untuk lebih fokus pada bukti manfaat secara individu. “Orang-orang harus melihat ini dan semoga membuat pilihan pribadi yang lebih baik, daripada diberi tahu apa yang harus dilakukan oleh suatu organisasi yang berwenang,” kata Johnston.

Postcomended   Penelitian Mengungkap Mengapa Menguap Bisa Menular

Organisasi Kanker Tak Akan Mengubah Saran

Tetapi (bagaimanapun) mengurangi makan daging merah dan daging olahan telah menjadi landasan pedoman diet selama beberapa dekade di banyak negara dan dari kelompok kesehatan terkemuka. Badan Internasional Penelitian Kesehatan Organisasi Kanker Dunia mengatakan bahwa daging olahan bersifat karsinogenik, sedangkan daging merah “mungkin” bersifat karsinogenik.

Menanggapi pedoman terbaru ini, World Cancer Research Fund mengatakan tidak akan mengubah sarannya.
“Kami mempertahankan kepercayaan kami pada penelitian ketat yang dilakukan selama 30 tahun,” kata direktur penelitiannya, Giota Mitrou.

Marji McCullough, ahli epidemiologi di American Cancer Society, mengatakan para peneliti telah memperhitungkan nilai dan preferensi pribadi orang. Ini kata McCullough, seperti mengatakan, “Kita tahu helm bisa menyelamatkan hidup, tetapi beberapa orang masih lebih suka perasaan angin di rambut mereka ketika mereka naik sepeda.”

“Dan mari kita hadapi itu, kebanyakan orang tidak akan jatuh (dari sepeda/motor), tapi semua orang setuju kamu harus memakai helm.” Kevin McConway, profesor statistik terapan emeritus di Universitas Terbuka Inggris, mengatakan kurangnya bukti ilmiah yang keras berarti ada beberapa jawaban yang jelas.

Postcomended   Memanen Realitas Hidup Masa Kini

“Yang menyedihkan, semua ini cenderung mengindikasikan bahwa setelah bertahun-tahun dan jutaan partisipan penelitian ini, kita masih tidak tahu banyak,” katanya, seperti menetralisasi perbedaan pendapat yang muncul. Tapi ini sebenarnya sederhana saja; jangan menjadi fobia: makanlah segala sesuatu secukupnya, jangan berlebih.***


Share the knowledge

Leave a Reply