Teras Dunia (Blog Ruri) - blogger852 × 479Search by image ''Lee, yang bekerja sebagai anggota awak di kapal yang sama, menggunakan kapal itu untuk menyeberangi perbatasan pada Rabu malam,'' kata juru bicara itu.

Teras Dunia (Blog Ruri) – blogger852 × 479Search by image ”Lee, yang bekerja sebagai anggota awak di kapal yang sama, menggunakan kapal itu untuk menyeberangi perbatasan pada Rabu malam,” kata juru bicara itu.

“Cina seringkali mendeportasi para pembelot Korut. Padahal jika dipulangkan, Mereka terancam hukuman berat bahkan hukuman mati”

Seorang pengungsi Korea Utara (Korut) yang menetap di Korea Selatan (Korsel) pada 2007, kembali ke Korut menggunakan kapal nelayan yang dicuri di tengah-tengah krisis militer di semenanjung Korea. Pengungsi berumur 28 tahun yang diidentifikasi bernama Lee itu mencuri kapal di pulau Yeonpyeong yang terletak di sebelah perbatasan maritim yang disengketakan dengan Korut, demikian kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel kepada AFP.

”Lee, yang bekerja sebagai anggota awak di kapal yang sama, menggunakan kapal itu untuk menyeberangi perbatasan pada Rabu malam,” kata juru bicara itu. Pihak Korsel mendeteksi perjalanannya pada radar, dan menghubungi pemilik kapal yang memberikan nomor ponsel Lee. Para pejabat kemudian memanggil Lee dan mendesaknya untuk kembali. ”Tetapi, dia menolak,” kata juru bicara itu.

Yeonpyeong yang terletak sekitar 1,5 kilometer (0,9 mil) selatan perbatasan adalah pulau yang dihujani tembakan oleh Korut pada November 2010, dalam satu serangan yang menewaskan empat warga Korsel. Pyongyang (ibu kota Korut) bulan lalu memperingatkan penduduk pulau yang dilengkapi peralatan berat militer itu, untuk meninggalkan pulau sebagai antisipasi meletusnya perang.

Lee hanya satu dari sejumlah kecil warga Korut yang–entah dengan alasan apa–kembali ke negerinya, di tengah banyaknya warga Korut yang bertaruh nyawa untuk lari dari negerinya yang berpaham komunis. Sejak perang Korea meletus pada 1950-1953, sudah sekitar 25.000 warga Korut yang melarikan diri untuk menetap di Korsel. Sebagian besar menyeberang melalui Cina .).

Pihak Korut sering memublikasikan kasus-kasus para pembelot yang kembali. November 2012 lalu, Korut melalui kantor berita-nya KCNA, mengatakan, sepasang pebelot, Kim Kwang-Hyok, dan istrinya, Ko Jong-nam, telah kembali pada 12 September. Keduanya dikatakan terpancing membelot ke Korsel pada 2008. Berita ini adalah ketiga kalinya dalam 2012, Korut melaporkan kisah pembelot yang kembali ke Korut. Pemerintah Korsel pun menyelidiki motif mereka kembali ke Korut. Pihak Korut sendiri memublikasikan alasan mereka kembali, sebagai bagian dari kampanye ideologisnya, bahwa kehidupan di Korsel pahit dan tidak nyaman. Sementara itu, sebagai negara yang lautnya berbatasan dengan Korut, Cina seringkali dipusingkan oleh aksi pembelotan warga Korut. Pada 9 Maret lalu, Cina menangkap dua aktivis perempuan Korsel di Kota Yanji, Provinsi Jilin, China, karena membantu delapan warga Korut membelot. Satu dari dua warga Korsel itu dibebaskan kemarin,” demikian ujar sumber dari Cina, seperti dikutip Korea Herald, Kamis (21/3/2013).

Postcomended   Jerman Tuduh Turki Gunakan Interpol untuk Tangkapi Para Oposan

Laporan penangkapan para aktivis itu dimumkan seorang misionaris Korsel, Kim Seung-eun. Dua aktivis beserta delapan pengungsi Korut itu dibekuk aparat keamanan Cina dan diadili. Sementara delapan warga Korut dikirim ke penjara Tumen. Mereka terancam dideportasi ke negaranya,” ujar Kim. Sejauh ini, ribuan pembelot Korut diduga bersembunyi di Cina, dengan harapan bisa pergi ke beberapa negara Asia Tenggara dulu sebelum bermukim di Korsel.
Para pembelot ini biasanya melarikan diri dengan berjalan kaki ke Cina, bersembunyi dan kemudian melakukan perjalanan ke negara ketiga untuk mencari pemukiman di Korsel. Mereka melarikan diri dari negaranya dengan alasan mendapat penyiksaan. Cina sendiri memandang mereka bak imigran gelap yang harus dideportasi alias dikembalikan ke negerinya. Padahal menurut para aktivis Korsel, para pembelot itu terancam hukuman berat bahkan mungkin hukuman mati jika dipulangkan.
Pada 18 Februari lalu, para pembelot Korut yang sudah bermukim di Korsel, menyebarkan sekitar 200 ribu selebaran anti-Korut melalui balon udara, di wilayah perbatasan Korut-Korsel. Pada selebaran tersebut disertakan uang sebesar 1 dolar AS. Aksi ini dilakukan berkaitan dengan uji coba nuklir Korut yang dilakukan pekan lalu. Demikian diberitakan AFP, Senin (18/2/2013).Pada balon dituliskan pesan seperti,”hentikan provokasi dengan uji coba nuklir dan rudal” dan “Rakyat Korut bangkitlah!” serta “Dinasti Kim akan hancur tidak lama lagi.” Pihak Pemerintah Korsel sempat mengkhawatirkan aksi tersebut akan memprovokasi serangan dari Korut. Kekhawatiran tersebut beralasan karena sebelumnya Korut pernah mengancam akan melakukan serangan militer karena adanya penyebaran selebaran anti-Korut. Warga Korut bahkan sampai dipindahkan agar tidak tersentuh/terprovokasi selebaran tersebut .
Pembelotan tak hanya dilakukan warga biasa. Meski tergolong langka, anggota militer Korut pun ada yang melakukannya. Oktober 2012 lalu, seorang tentara Korut berhasil berhasil menerobos penjagaan dan berlari di Zona Demiliterisasi (DMZ) kedua negara Korea itu yang panjangnya 500 meter. Namun diberitakan, sebelumnyadia terpaksa membunuh dua kawannya dulu, salah satunya adalah atasannya di angkatan bersenjata Korsel.Tentara di Korsel langsung menerima tentara pembelot tersebut dan menjaganya di tempat aman. “Tentara Korut itu mengatakan, saat dia bertugas jaga dia membunuh pemimpin pletonnya dan kawannya sesama tentara sebelum membelot,” ujar pihak militer Korsel di Seoul. Pembelotan melalui DMZ yang dijaga ketat jarang terjadi. Biasanya para pembelot kabur melalui hutan atau laut, menuju Cina atau negara-negara Asia Tenggara. “Tentara Korut terakhir yang membelot melalui DMZ terjadi pada Maret 2010,” ujar pernyataan Korsel.Pembelotan biasanya terjadi karena warga tidak tahan hidup di Korut yang menganut sistem komunisme otoriter yang mengekang kebebasan warga. Pemerintah Korut memburu setiap pembelot dan menghukum mati mereka yang tertangkap.

Sejak kematian Kim Jong-il, ayah dari Kim Jong-un, Presiden Korut sekarang, Pyongyang semakin memperketat kontrol perbatasan. Patroli intensif dilakukan sepanjang perbatasan Korut guna mencegah pembelotan. Awal 2012 lalu, setelah Kim Jong-il meninggal pada 17 Desember 2011, tiga warganya yang menyeberangi perbatasan menuju Cina telah ditembak mati.
 Para penjaga membawa mayat-mayat mereka yang tergeletak di es,” kata seorang pegiat hak asasi manusia di Seoul, Do Hee-youn kepada AFP yang mengutip sumber di perbatasan distrik Changbai, China. Do yang seringkali membantu warga Korut yang ingin membelot, menyebutkan, penembakkan itu dianggap sebagai tindakan keamanan yang diperketat selama suksesi kekuasaan. “Saya takut keadaan akan menjadi jauh lebih sulit bagi warga Korut untuk membelot,” katanya.Pemerintah Korut dikabarkan telah menyebarkan isu kepada warga perbatasan mengenai kematian tiga pembelot tersebut. “Mereka mencoba untuk membiarkan orang tahu bahwa mereka yang mencoba melarikan diri akan ditembak mati,” kata Do, mengutip sumber di Korut yang berkomunikasi melalui telepon selular yang diselundupkan dari China.
Menghadapi banyaknya warga mereka yang membelot, pihak Korut melakukan berbagai cara agar para pembelot itu kembali. Salah satunya dengan menyebarluaskan wawancara dengan keluarga para pembelot. Misalnya pada 2011 lalu, Korut menyebarluaskan wawancara dengan keluarga dari empat warganya yang perahunya tak sengaja terbawa hanyut melintasi perbatasan Laut Kuning bersama 30 orang lainnya, namun empat dari 30 itu akhirnya memutuskan �membelot.
Para anggota keluarga ini dalam wawancara tersebut (seolah-olah) memohon supaya orang-orang yang mereka cintai bisa kembali, seraya mengatakan bahwa saudara-saudaranya itu telah dicuci otaknya oleh Korsel. Mark Willacy dari Radio Australia yang menyusun laporan ini menyebutkan, tragedi yang sebenarnya adalah pihak keluarga yang diwawancarai ini bukan hanya tak akan bertemu dengan keluarga mereka lagi, namun kemungkingan bakal dimasukkan ke dalam penjara karena sanak saudara mereka dianggap telah melakukan dosa terbesar pengkhianatan.
Pyongyang menuntut Seoul membawa empat calon pembelot ini ke satu pertemuan dengan keluarga mereka di perbatasan, supaya mereka bisa mengonfirmasi secara pribadi apa benar mereka ingin tinggal di Korsel. Tapi Korsel menyatakan tidak akan lakukan hal itu.