Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

Sudan Bersiap Sambut Angin Perubahan Setelah 30 Tahun yang Penuh Kekerasan

Share the knowledge

Warga dari berbagai kota di Sudan dating ke Khartoum menggunakan kereta api untuk turut merayakan penandatanganan kesepakatan transisi dari militer ke aturan sipil setelah unjuk rasa 8 bulan yang menewaskan lebih dari 200 orang (Gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=1kBF4EZQY_E)

Warga dari berbagai kota di Sudan dating ke Khartoum menggunakan kereta api untuk turut merayakan penandatanganan kesepakatan transisi dari militer ke aturan sipil setelah unjuk rasa 8 bulan yang menewaskan lebih dari 200 orang (Gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=1kBF4EZQY_E)

Dua tahun lebih cepat ketimbang Indonesia, Sudan –yang telah menunaikan kudeta militer April lalu– menyongsong angin perubahan. Ini jika militer, yang punya hajat, merelakan sipil mengelola pemerintahan, Setidaknya Sudan sudah pada relnya, setelah 30 tahun penuh tekanan dan kekerasan.

Sudan siap merayakan kesepakatan bersejarah antara para jenderal dan para pemimpin unjuk rasa untuk transisi ke pemerintahan sipil, Sabtu (17/8/2019), dengan harapan akan dimulainya peningkatan kebebasan dan kemakmuran.

Selama upacara yang diadakan di satu aula di sebelah Sungai Nil di ibukota Khartoum, anggota Dewan Militer Transisi dan para pemimpin unjuk rasa akan menandatangani dokumen yang akan mengatur transisi 39 bulan.

“Hari ini, negara ini memulai transisi bersejarahnya ke demokrasi,” bunyi berita utama di halaman depan surat kabar Tayar, yang juga digaungkan surat kabar lainnya di sana; meskipun terbersit juga kecemasan di kalangan warga bahwa jalan menuju demokrasi tak bakal semulus tampaknya.

Kesepakatan itu dicapai pada 4 Agustus lalu –Deklarasi Konstitusi– yang mengakhiri hampir delapan bulan pergolakan massa yang bergerak melawan presiden Omar al-Bashir. Bashir berhasil digulingkan pada April setelah 30 tahun berkuasa.

Kesepakatan yang ditengahi oleh Uni Afrika dan Ethiopia ini disambut dengan lega oleh kedua belah pihak. Para pengunjuk rasa merayakan apa yang mereka lihat sebagai kemenangan “revolusi” mereka, sementara para jenderal menerima pujian karena mencegah terjadinya perang saudara.

Postcomended   16 November dalam Sejarah: Muncul Pertamakali di Cina, Penyakit Ini Lalu Menyebar ke Negara Lain

Video yang dibagikan di media sosial menunjukkan ratusan orang sejak Jumat (16/8/2019) naik kereta api dari kota Atbara –tempat kelahiran protes pada Desember 2018– menari dan menyanyi dalam perjalanan menuju perayaan di Khartoum.

“Pemerintahan sipil, pemerintahan sipil,” teriak mereka, seraya berjanji membalaskan dendam sekitar 250 orang yang diduga dibunuh oleh pasukan keamanan selama protes. Setelah penandatanganan pada Sabtu, Sudan memulai proses yang mencakup langkah pertama yang penting.

Komposisi dewan penguasa transisi mayoritas sipil akan diumumkan Minggu. Kamis, mantan pejabat senior PBB Abdalla Hamdok, seorang ekonom veteran, ditunjuk sebagai perdana menteri sementara.

Dia diperkirakan akan fokus pada upaya menstabilkan ekonomi Sudan yang mengalami kejatuhan ketika Selatan yang kaya minyak memisahkan diri pada 2011 dan menjadi faktor yang memicu protes awal.

Di pasar pusat Khartoum, Sabtu pagi, pembeli dan pemilik kios yang diwawancarai oleh AFP semua mengatakan mereka berharap pemerintah sipil akan membantu mereka menaruh makanan di atas meja.
“Semua orang senang sekarang,” kata

Postcomended   PRT Asal Indonesia Diiklankan oleh Pasar Online Singapura

“Kami berada di bawah kendali militer selama 30 tahun, tetapi hari ini kami meninggalkannya di belakang kami dan bergerak menuju pemerintahan sipil,” kata Ali Yusef, Sabtu. Yusef adalah mahasiswa berusia 19 tahun yang bekerja di pasar pusat Khartoum untuk bertahan hidup.

Duduk di sebelah tomat yang ditumpuk di tanah, Yusef mengatakan, “Semua sayuran di sini sangat mahal, tetapi sekarang saya yakin mereka akan menjadi lebih murah.” Sementara itu masih harus dilihat perubahan apa yang dapat dibawa transisi ke kehidupan sehari-hari masyarakat: penduduk tua dan muda sangat ingin menggunakan kebebasan berekspresi yang baru ditemukan.

“Saya berusia 72. Selama 30 tahun di bawah Bashir saya tidak merasa senang. Sekarang, terima kasih kepada Tuhan, saya mulai bisa bernapas,” kata Ali Issa Abdel Momen, duduk di depan sayuran dagangannya.

Bashir Didakwa Lakukan Genosida dan Korupsi

Tetapi banyak orang Sudan yang mempertanyakan kemampuan lembaga transisi untuk mengendalikan kekuatan elit militer selama periode tiga tahun untuk mempersiapkan pemilihan demokratis yang direncanakan.

Negara berpenduduk 40 juta orang ini untuk sementara akan diperintah oleh dewan yang beranggotakan 11 orang dan pemerintah, yang –sesuai dengan kesepakatan– akan didominasi warga sipil. Namun, menteri dalam negeri dan menteri pertahanan harus dipilih oleh anggota militer dewan.

Postcomended   Renault dan Nissan Diduga Bakal Berpelukan Lebih Mesra

Para pengamat telah memperingatkan bahwa pemerintah transisi akan memiliki sedikit pengaruh untuk melawan setiap upaya militer untuk mengembalikan prestasi pemberontakan dan merebut kembali kekuasaan.

Pasukan keamanan dikerahkan di seluruh kota untuk acara internasional terbesar yang akan diadakan dalam waktu yang lama di Sudan, yang telah menjadi semacam negara kasta paria di bawah pemerintahan Bashir.

Salah satu konsekuensi diplomatik paling cepat dari kompromi yang dicapai bulan ini adalah pencabutan penangguhan terhadap Sudan oleh Uni Afrika pada Juni.

Bashir, yang mengambil alih kekuasaan melalui kudeta 1989 dan dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas tuduhan genosida di wilayah Darfur, telah dijadwalkan untuk hadir di pengadilan, Sabtu, dengan tuduhan korupsi. Namun persidangannya ditunda hingga tanggal yang belum ditentukan.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top