Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

Suriah Mulai Stabil, Uni Emirat Arab Bakal Buka Kembali Kedutaan Besarnya

Share the knowledge

 

Setelah ISIS berhasil diusir dari Bumi Suriah, akktivitas pasar kembali hidup, tujuh tahun sejak negeri ini dihantam perang saudara (gambar dari:  https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/syrian-civil-war-damascus-clings-to-normal-life-amid-the-chaos-of-conflict-10318367.html)

Setelah ISIS berhasil diusir dari Bumi Suriah, akktivitas pasar kembali hidup, tujuh tahun sejak negeri ini dihantam perang saudara (gambar dari: independent.co.uk)

Tujuh tahun kemudian setelah otoritas Suriah menyatakan berhasil mengusir ISIS dan kaum oposisi/pemberontak, negara asing mulai mempercayai stabilitas Suriah. Setidaknya ini ditandai dengan rencana Uni Emirat Arab yang akan membuka kembali kedutaan besarnya di Damaskus. Rencana ini sejalan dengan AS yang mengaku akan menarik ribuan tentaranya dari kawasan ini. Ada Indikasi Teluk ingin berdamai dengan rezim Bashar al-Assad.

Kedutaan Uni Emirat Arab (UEA)  telah ditutup sejak 2011 ketika perang saudara Suriah yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang, dimulai. Namun satu sumber dari pemerintah UEA mengatakan kepada CNN bahwa belum akan ada duta besar yang ditunjuk.

Kantor berita milik negara, WAM, melaporkan, mengutip pernyataan dari Kementerian Luar Negeri dan Kerjasama Internasional UEA, mengatakan, langkah ini dimaksudkan untuk membantu memulihkan hubungan antara kedua negara.

Dia menambahkan bahwa UEA menantikan keselamatan dan keamanan dan stabilitas yang dipulihkan di Suriah.
Pembukaan kembali kedutaan di Suriah, kata pihak UEA, dimaksudkan untuk membantu memulihkan hubungan bilateral kedua negara.

Menteri Luar Negeri Urusan Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, menulis di akun Twitter-nya tentang pembukaan kembali kedutaan mereka tersebut dengan mengatakan bahwa “peran Arab di Suriah telah menjadi lebih penting untuk melawan Iran dan kekuasaan Turki di wilayah tersebut.”

Postcomended   Survei: Rasisme di AS Kian Parah Sejak Presiden Donald Trump Berkuasa

“Itu (pembukaan kembali) adalah buah dari keyakinan bahwa fase selanjutnya membutuhkan kehadiran Arab dan komunikasi dengan Suriah untuk merawat rakyatnya, kedaulatan, dan integritas wilayah,” kata Gargash dalam cuitan lainnya.

Pembukaan kembali Kedutaan Besar UEA ini diyakini dapat mengurangi isolasi terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad, oleh negara-negara tetangganya.

Pernyataan ini datang lebih dari seminggu setelah Presiden Sudan, Omar al-Bashir, mengunjungi Suriah. Perjalanan penguasa Sudan pada 16 Desember lalu ini adalah pertama kalinya seorang pemimpin Liga Arab –organisasi 22 negara Timur Tengah dan Afrika dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)– mengunjungi negara itu sejak perang dimulai pada 2011.

Liga Arab mengusir Suriah pada 2011 sebagai tanggapan atas kekerasan pemerintah terhadap warganya sendiri.
Langkah ini juga mengikuti perintah Presiden AS, Donald Trump, pada 19 Desember lalu untuk penarikan penuh 2.000 tentara AS dari Suriah, seraya menyatakan bahwa ISIS telah dikalahkan. Keputusan Trump ini bertentangan dengan nasihat jenderal militernya dan pejabat keamanan nasional top.

Teluk Ingin Berdamai dengan Suriah

Kabar rencana UEA membuka kembali kedutaannya di Damaskus telah mengemuka sejak November lalu, seperti dilaporkan surat kabar Rusia, Nezavisimaya Gazeta, ketika sebuah sumber di Damaskus mengatakan kepada media ini bahwa para pejabat Emirati telah bertemu dengan rezim Suriah untuk memulihkan misi diplomatiknya di ibukota, sebagai tanda hubungan pemanasan Abu Dhabi dengan rezim Bashar al-Assad.

Postcomended   Kasus Terorisme Domestik Membesar, FBI Fokus ke Dalam Negeri

Menurut sumber itu, yang dilansir laman Alaraby mengutip Nezavisimaya Gazeta, seorang diplomat Emirati sudah bermarkas secara permanen di Damaskus, sementara para pejabat lainnya melakukan kunjungan rutin ke ibukota Suriah. Laporan itu menambahkan bahwa kawat berduri dan penghalang beton telah dihapus dari kedutaan UEA dan bahwa para pejabat Mesir juga terlibat dalam negosiasi.

Laporan itu muncul beberapa hari setelah media pro-rezim, Al-Masdar News, melaporkan bahwa Arab Saudi berkomunikasi dengan pihak berwenang Suriah melalui UEA untuk berdamai. media itu mengatakan langkah pertama menuju rekonsiliasi adalah pembukaan kembali kedutaan UEA di Damaskus, mengutip sebuah sumber di Damaskus.

Kecuali Oman, negara-negara Teluk menutup perwakilan-perwakilan mereka di Suriah setelah pecahnya konflik pada 2011, yang menurut Alaraby ditandai dengan pasukan Assad yang menembak mati para pengunjuk rasa damai.

Beberapa negara Teluk (yang didukung AS) telah mendukung faksi oposisi Suriah selama konflik tujuh tahun tersebut, dengan memberikan senjata kepada berbagai kelompok pemberontak dalam upaya untuk menangkal dukungan Iran untuk rezim Suriah.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa negara-negara Teluk sekarang berusaha untuk berdamai dengan rezim Assad. Bulan lalu, Assad mengatakan kepada surat kabar Kuwait bahwa Suriah telah mencapai “pemahaman besar” dengan negara-negara Arab setelah bertahun-tahun permusuhan. Dia mengatakan delegasi Arab dan Barat telah mulai mengunjungi Suriah untuk mempersiapkan pembukaan kembali misi diplomatik.

Postcomended   Bom Srilanka Disebut Balas Dendam atas Pembantaian Christchurch

Wawancara itu terjadi setelah pertemuan hangat mengejutkan antara menteri luar negeri Suriah, Walid al-Muallem, dan mitranya dari Bahrain, Khalid bin Ahmed al-Khalifa, di sela-sela Majelis Umum PBB. Pertemuan itu menimbulkan pertanyaan apakah negara-negara Teluk tertentu –sebagian besar dari mereka bersumpah sebagai musuh sekutu Assad, Iran– mempertimbangkan kembali hubungan mereka dengan Damaskus saat perang berakhir.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top