Taksi Daring dan Praktik Monopoli Usaha oleh Asep B - Kompasiana.com Kompasiana.com660 × 375Search by image Taksi Daring dan Praktik Monopoli Usaha

Taksi Daring dan Praktik Monopoli Usaha oleh Asep B – Kompasiana.com Kompasiana.com660 × 375Search by image Taksi Daring dan Praktik Monopoli Usaha

Inilah yang terjadi pada 31 perusahaan taksi reguler yang ada di Jakarta. Mereka ambruk. Hanya empat yang bertahan. Mereka tak sanggup mengejar kecepatan lari teknologi daring. Apakah pemerintah telat menetapkan aturan tarif batas bawah dan atas? Tapi, kehidupan akan mencari jalannya sendiri. Toh taksi online tetap punya modal struktur yang berbiaya rendah, dan… tidak ada biaya buka pintu.

Ihwal bangkrutnya banyak perusahaan taksi reguler ini diungkapkan Ketua DPD Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, Kamis (6/7/2017). Perusahaan-perusahaan itu, kata Shafruhan, telah lama berbisnis di Indonesia. Namun gugur hanya dalam tempo dua tahun sejak merebaknya taksi online. 

“Ambruknya perusahaan itu menimbulkan pengangguran enggak? Ya pasti,” tutur dia. Oleh sebab itu dia mengapresiasi langkah pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Tidak Dalam Trayek.

Postcomended   Dendam, Qatar Perintahkan Toko Bongkar Rak Impor Asal Saudi Cs

Payung hukum ini mengatur operasional taksi online termasuk di dalamnya masalah tarif.

Penetapan tarif ini dibagi dalam dua wilayah, yakni wilayah I mencakup Sumatera, Jawa dan Bali, sedangkan Wilayah II berlaku di daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Adapun tarif batas bawah untuk wilayah I sebesar Rp 3.500 dan batas atasnya sebesar Rp 6.000. Sedangkan wilayah II tarif batas bawahnya sebesar Rp 3.700 dan batas atasnya sebesar Rp 6.500.

Dengan aturan ini, tarif taksi daring akan bersaing dengan taksi reguler, meskipun kata Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, ongkos taksi online tetap akan lebih murah; sekitar 15 persen. Sebab, pelanggan tidak kena tarif buka pintu laiknya taksi reguler. 

Kenapa taksi daring selama ini bisa lebih murah?Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan, itu karena pengelolanya lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi daring. Pendapatan tidak melulu bergantung dari setoran supir, melainkan juga dari iklan dan dari operator komunikasi.

Postcomended   Ketahui Trik Jitu Ajari Si Kecil Puasa Ramadhan

Sementara itu, Berly Martawardaya, ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengatakan, secara umum transportasi berbasis aplikasi memang membutuhkan struktur biaya lebih rendah. Mereka misalnya, tidak memerlukan tanah untuk membangun pool dan tidak ada biaya perawatan mobil-mobilnya.

Berly berharap, kebijakan tarif batas bawah ini hendaknya bertujuan meningkatkan surplus konsumen dan melindungi pengemudi, alih-alih melestarikan oligopoli perusahaan tertentu yang memaksa masyarakat kembali ke moda transportasi konvensional meski ada pilihan yang lebih .***(ra)

Postcomended   Accor Take Off 2018 International Competition "Mobile Hospitality for Global Nomads"

Share the knowledge