Saad al-Hariri (Reuters)

Takut dibunuh, Perdana Menteri (PM) Lebanon, Saad al-Hariri, mengundurkan diri dari jabatan yang telah didudukinya sejak Desember 2016. Dalam sebuah siaran televisi dari Arab Saudi, dia mengatakan bahwa nyawanya terancam, seraya menuduh Iran telah menciptakan perselisihan di beberapa negara, termasuk Lebanon. Pada 4 November 2017, Menteri Urusan Teluk Arab Saudi mengatakan memperoleh informasi mengenai rencana pembunuhan Saad dari pengawal pribadinya. Tindakan Saad dinilai sebagai langkah yang membuat anggota parlemennya sendiri bingung, dan telah membuka jurang ketidakpastian di Lebanon.

“Kita hidup dalam iklim serupa dengan saat sebelum pembunuhan martir Rafik al-Hariri,” kata Saad di Riyadh, terkait ancaman pembunuhan itu, seperti dilansir BBC. Rafik al-Hariri adalah ayah Saad yang adalah PM Lebanon era 1990-an hingga 2000-an awal. Ayahnya meninggal karena dibunuh pada 2005.

Keluarga Hariri dekat dengan Arab Saudi, pesaing regional Iran. Saad terpilih lagi menjadi PM pada Desember 2016, setelah sebelumnya memegang posisi sama pada 2009-2011.

Postcomended   Kedua Negara Ini Mendadak Mesra demi Jegal Kemerdekaan Kurdistan

 

“Saya merasakan ada rencana sembunyi-sembunyi untuk menarget hidup saya,” ujarnya lagi. Pada kesempatan bicara di televisi tersebut, Saad juga menyerang gerakan Syiah yang didukung Iran, Hizbullah, yang memiliki kekuatan besar di Lebanon.

Dikutip VOA, ada pihak-pihak luar, ucap Saad, yang tidak menghendaki kebaikan Lebanon. Mereka menurutnya telah menebarkan bibit pertentangan agama di antara warga Lebanon, memperkuat pengaruhnya pada kekuasaan, dan membentuk negara dalam negara. Ia juga menuduh Iran mencampuri masalah dalam negeri negara-negara seoerti Suriah, Irak, Bahrain, dan Yaman.

Menanggapi hal itu, Iran mengatakan, pengunduran dirinya hanya akan menciptakan ketegangan regional. Iran juga menolak tuduhan Saad tersebut “tidak berdasar”.

Dalam beberapa hari terakhir, Saad telah melakukan kunjungan ke Arab Saudi, negeri yang kepemimpinannya sangat menentang Iran. Pengumuman pengunduran diri ini disampaikan sehari setelah pertemuan di Beirut dengan Ali Akbar Velayati, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Kahmenei.

Postcomended   Arab Saudi Mencabut Larangan Yoga

 

Menteri Urusan Teluk Arab Saudi, Thamer al-Sabhan, Sabtu, mengatakan, ia memperoleh informasi yang terkonfirmasi mengenai rencana pembunuhan Saad dari pengawal pribadinya.

Saad kembali menduduki jabatan PM sejak tahun lalu. Saat terpilih, Saad menjanjikan “era baru untuk Lebanon” setelah negeri ini dua tahun mengalami kebuntuan politik. Pemerintahan koalisi yang dipimpinnya ini mempertemukan hampir semua partai politik utama di Lebanon, termasuk Hizbullah.

Seperti diketahui, ayahnya terbunuh dalam sebuah serangan bom pada 2005, yang pelakunya secara luas ditudingkan pada Hizbullah.

Sejauh ini, Lebanon adalah negara di kawasan Timur Tengah yang “lolos” dari tarik menarik kekuasaan, termasuk yang melibatkan ISIS. Bagaimanapun, pengunduran diri yang “aneh” ini membuat banyak orang Lebanon cemas bahwa mereka berada di garis lurus pertikaian dua negara adidaya regional: Iran dan Arab Saudi.(***/BBC/VoA)

Postcomended   16 November dalam Sejarah: Operasi Karpet Ajaib Terbangkan Yahudi Pertama ke Israel