Trump's most terrifying temper tantrum: Death penalty for drug ... Salon Trump's most terrifying temper tantrum: Death penalty for drug dealers is beyond the pale | Salon.com

Trump’s most terrifying temper tantrum: Death penalty for drug … Salon Trump’s most terrifying temper tantrum: Death penalty for drug dealers is beyond the pale | Salon.com

Ketika ketegangan dengan Korea Utara mereda, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, giliran bikin ulah dengan Iran. Dalam 180 hari ke depan, Trump mengancam akan kembali menerapkan sanksi kepada negara para Mullah ini setelah dengan kepala batu menyatakan menarik diri dari “kesepakatan nuklir”, Selasa (8/5/2018). 

Bujukan sekutu-sekutu Eropanya tak dihiraukan. Trump mendasarkan kemarahannya antara lain pada rengekan Riyadh yang menuduh Iran menarget Arab Saudi dengan merujuk pada rudal balistik yang ditembakkan ke wilayah Kerajaan ini oleh sekutu Iran di Yaman. Harga minyak global pun naik tak terkendali.

Berdasarkan itu, Trump yang tak terlibat dalam negosiasi kesepakatan nuklir yang dilakukan di era Presiden Barrack Obama, mengatakan, kesepakatan tersebut “cacat pada intinya”. Dia dan para kritikus dari kesepakatan era Obama, termasuk Arab Saudi, mengatakan perjanjian itu gagal membatasi program rudal balistik Iran, terlihat juga dari kebijakan luar negerinya di Suriah dan Yaman.

Postcomended   Harga Minyak Terkerek Naik Menyusul Niat AS Serang Suriah

“Setelah sanksi dicabut, kediktatoran (di Iran) akan menggunakan dana baru untuk membangun rudal bertenaga nuklir, mendukung terorisme, dan menyebabkan malapetaka di seluruh Timur Tengah dan seterusnya,” ceroros Trump.

Ketika Eropa berusaha meredakan amarah Trump, Arab Saudi berada paling depan mendukung keputusan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Kesepakatan ini dicapai antara AS dengan sejumlah negara besar termasuk negara-negara sekutunya di Eropa dengan barter pencabutan sanksi internasional atas Iran, sementara Iran membatasi program nuklirnya.

Sejak pencabutan sanksi tersebut, Iran kembali muncul sebagai eksportir minyak utama pada 2016, dengan ekspor April mencapai di atas 2,6 juta barel per hari (bph). Ini menjadikan Iran eksportir ketiga terbesar minyak mentah dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di belakang Arab Saudi dan Irak.

Jika dalam 180 hari ke depan Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan baru, risiko konflik di Timur Tengah dipastikan meningkat. Sementara di sisi lain, muncul ancaman ketidakpastian atas pasokan minyak global, di saat pasar minyak mentah sudah ketat.

Rabu (9/5/2018), harga minyak naik lebih dari 3 persen, mencapai tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir. “Ekspor minyak Iran ke Asia dan Eropa hampir dipastikan akan menurun akhir tahun ini serta memasuki 2019. Beberapa negara mulai mencari alternatif untuk menghindari masalah dengan Washington sebagaimana sanksi mulai terasa menggigit,” kata Sukrit Vijayakar, direktur konsultan energi Trifecta, dilansir Reuters.

Postcomended   Penjualan Mobil Amerika dan Eropa Rontok: Boss Cadillac Dipecat Mendadak

Semua kontrak berjangka minyak mentah utama melihat adanya lonjakan volume perdagangan karena para investor mengambil posisi baru, dan para penyuling melindungi diri untuk kemungkinan harga bahan baku yang lebih tinggi.

Untuk meredakan kekhawatiran pasar, Arab Saudi pada Rabu mengatakan akan bekerja sama dengan produsen lain untuk mengurangi dampak kekurangan pasokan minyak. Negara ini telah memimpin upaya sejak 2017 untuk menahan produksi untuk menopang harga.
Uni Eropa Bertekad Mempertahankan Kesepakatan

Melihat potensi kekacauan ini, Eropa berupaya melobi keras Washington untuk tetap berada dalam kesepakatan. Kepala diplomatik Uni Eropa (UE), Federica Mogherini, mengatakan, jika Teheran berpegang teguh pada komitmennya, UE “bertekad untuk mempertahankan” kesepakatan.

Inggris, Jerman dan Prancis mendesak AS untuk tidak mengambil langkah-langkah yang akan membuat hidup lebih sulit bagi negara-negara lain yang masih ingin tetap berpegang pada kesepakatan itu. “Kami mendesak AS untuk memastikan struktur JCPOA (kesepakatan) dapat tetap utuh,” bunyi pernyataan bersama para pemimpin Inggris, Jerman dan Perancis.

Postcomended   Bayi Cina Lahir Empat Tahun Setelah Kedua Orangtuanya Meninggal

Sejalan dengan harapan Eropa, Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan, negaranya akan tetap berkomitmen pada perjanjian tersebut. Sebaliknya Rouhani menuduh, dengan keluar dari kesepakatan, AS secara resmi merusak komitmennya terhadap perjanjian internasional. Rouhani mengaku telah memerintahkan kementerian luar negerinya untuk bernegosiasi dengan negara-negara Eropa, Cina dan Rusia dalam beberapa minggu mendatang.(***/reuters)