Taylor Swift vs Spotify: Who's right? Death and Taxes658 × 411Search by image Image

Taylor Swift vs Spotify: Who’s right? Death and Taxes658 × 411Search by image Image

Menyusul Taylor Swift yang akhirnya menyerah dan menyetujui musiknya diputar di Spotify, layanan musik streaming ini pada 15 Juni 2017, via Twitter, mengumumkan, perolehan jumlah penggunanya secara global telah mencapai angka 140 juta. Tampaknya musisi tak bisa menolak perkembangan zaman kecuali siap tergilas.

Pertumbuhan perusahaan rintisan (start up) itu cukup pesat, mengingat penggunanya tahun lalu hanya sebanyak 40 juta. Angka-angka tersebut tampaknya akumulasi baik yang gratis maupun berbayar.

Jika dibandingkan dengan layanan sama milik Apple, pada Maret 2017 Spotify mengungkap angka 50 juta pelanggan, sementara awal bulan ini saja Apple Music baru melampaui angka 27 juta.

Dari cnnindonesia, pada 2012 saja Spotify mengaku telah menghabiskan uang sebesar 78 juta dolar AS (sekitar Rp 944 miliar) namun menangguk laba hingga 578 juta dolar AS (sekitar Rp 7 triliun).

Untuk menambah dan mempertahankan pelanggan, November 2016 Spotify mengakuisisi Preact, layanan berbasis cloud. Diharapkan, tingginya jumlah pelanggan akan berimplikasi pada penghasilan tambahan bagi label musik, sehingga para musisi tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Postcomended   Pilih Sawit atau Orangutan?

Tak cuma Swift yang mengakhiri boikotnya selama tiga tahun, The Beatles pada 2015 bahkan telah menampilkan katalog penuhnya di sembilan situs musik streaming sekaligus, termasuk Spotify. (http://m.republika.co.id/berita/senggang/musik/17/06/17/oro0o5335-layanan-musik-spotify-capai-140-juta-pengguna).

Swift bahkan kini juga membiarkan karyanya diakses dunia melalui Google Play dan Amazon Music. Tekno Liputan6.com mengutip The Verge, Jumat (9/6/17), manajemen penyanyi pop itu via Twitter berdalih, keputusan memasukkan kembali lagu Swift ke layanan musik streaming merupakan perayaan keberhasilan album “1989” yang terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia.

Alasan Swift memboikot Spotify sebelumnya lantaran start up asal Swedia ini dianggap tak memberi kompensasi yang adil pada musisi yang karyanya diputar di sana. Pada saat sama ketika itu, musik Swift bisa dinikmati lewat Tidal dan Apple Music. Rupanya kedua layanan streaming terakhir ini lebih akomodatif pada kemauaan Swift.

Postcomended   Narkoba Zombie Sudah Masuk Indonesia #Flakka #highasfuck

Apa itu Spotify?

Secara konsep, Spotify memungkinkan penggunanya mengakses lagu-lagu secara gratis maupun berbayar. Layanan itu menyediakan berbagai lagu dari label rekaman dunia, seperti Sony, EMI, Warner Music, dan Universal.

Musik dapat dicari dengan mesin pencarian yang memasukkan nama artis, album, genre, daftar lagu, maupun label rekaman. Bila pengguna bersedia membayar, maka ia tidak akan melihat iklan serta dapat mengunduh musik sehingga bisa didengarkan secara offline.

Spotify dirilis pada Oktober 2008, dan dikembangkan sejak 2006 oleh Spotify AB di Stockholm, Swedia.

Pendiri Spotify, Daniel Ek dan Martin Lorentzon, mengembangkan layanan itu karena menganggap streaming adalah penyelamat dunia musik hari ini. Sebab berdasarkan data, penjualan CD dan unduhan lagu menurun drastis. Spotify juga diklaim secagai salah satu cara melawan pembajakan.

Kendati begitu, musisi sempat merasa bahwa layanan streaming tidak memberi royalti sebaik penjualan CD atau unduhan lagu. Namun rupanya kini prediksi Spotify terbukti.

Postcomended   RIP Yahoo: Yahoo Bakal Ganti Nama

Sementara itu, pada 30 Maret 2016, Spotify baru resmi masuk Indonesia. Padahal layanan ini sudah ada di Malaysia, Singapura, dan Hongkong sejak 2013. .***(ra)