Internasional

Teluk Persia Memanas, AS Jajarkan Kapal Induk dan Pembomnya

Share the knowledge

Pesawat pembom B-52. Amerika mengerahkan B-52 ke Teluk Persia menyusul laporan intelijen bahwa Iran mulai memindahkan rudal-rudal balistiknya ke kawasan sama (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=qKPMZ_t765I)

Pesawat pembom B-52. Amerika mengerahkan B-52 ke Teluk Persia menyusul laporan intelijen bahwa Iran mulai memindahkan rudal-rudal balistiknya ke kawasan sama (foto ilustrasi dari: https://www.youtube.com/watch?v=qKPMZ_t765I)

Situasi Teluk Persia menegang. AS memutuskan mengerahkan grup kapal induk serang dan pembom B-52-nya ke wilayah tersebut. Keputusan ini menyusul laporan intelijen bahwa Iran akan memindahkan rudal balistik jarak pendeknya ke kawasan sama.

Hubungan kedua negara memanas ketika AS meningkatkan tekanan ekonomi dan militer ke Teheran yang membalasnya dengan menyatakan akan berhenti mematuhi perjanjian nuklir yang ditandatangani dengan lima kekuatan dunia lainnya: Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Cina.

Dalam laporannya pada Rabu (8/5/2019) CNN menyebutkan, sejumlah pejabat AS dengan pengetahuan langsung atas  situasi tersebut mengatakan, salah satu alasan penting AS memindahkan grup kapal induk dan pembom B-52 ke wilayah tersebut yakni adanya laporan intelijen bahwa Iran kemungkinan akan memindahkan rudal balistik jarak pendek di atas kapal di Teluk Persia.

Berdasarkan sejumlah informasi intelijen tersebut, AS percaya Iran memiliki kemampuan dan niat untuk melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran milik AS.

Postcomended   Teroris Terafiliasi ISIS Rencanakan Serangan dari Sibolga

Pada Selasa (7/5/2019) juru bicara Komando Sentral AS, Kapten Bill Urban, mengatakan, mereka telah melihat indikasi bahwa pasukan proksi Iran sedang membuat persiapan untuk kemungkinan menyerang pasukan AS di wilayah tersebut.

Tidak jelas apakah maksudnya Iran dapat meluncurkan rudal dari kapal, atau apakah mereka mengangkutnya untuk digunakan oleh pasukan di darat. Para pejabat mengatakan, Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirim senjata tambahan ke wilayah itu termasuk sistem pertahanan anti-rudal.

AS dapat mengirim sederetan rudal Patriot kembali ke wilayah itu beberapa bulan setelah AS membawanya pulang. Tidak ada keputusan akhir tentang penempatan tambahan yang telah dibuat tetapi para pejabat menjelaskan jika Iran menarik kembali, jajaran rudal mungkin tidak diperlukan.

Pentagon percaya tindakan Iran bisa menempatkan AS dan pasukan koalisi dalam bahaya di Arab Saudi, Bahrain dan Qatar. Para pejabat militer dan intelijen AS memantau pergerakan rudal Iran sepanjang waktu tetapi belum melihatnya mundur.

Ancaman maritim baru juga menyebabkan kekhawatiran bahwa pasukan yang didukung Iran di Yaman juga bisa bergerak untuk mengancam transportasi di Laut Merah. AS tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa Iran akan menyerang lokasi pasukan AS di Irak dan Suriah, meskipun Iran telah menjadi ancaman berkelanjutan di sana untuk beberapa waktu.

Postcomended   Anggota Kongres Nyesel Bantu Tagar #WindmillsCauseCancer Jadi Tren di Medsos

Rouhani Ingin AS Keluar dari “Kekuatan Dunia”

Sementara itu, Rabu, Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengumumkan, negara itu akan berhenti mematuhi beberapa bagian dari perjanjian nuklir 2015 yang ditandatangani “kekuatan dunia” ketika pemerintahan Presiden Donald Trump telah meningkatkan tekanan ekonomi dan militer di Teheran.

Deklarasi tersebut muncul pada peringatan satu tahun penarikan penuh Trump dari perjanjian yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan embargo terhadap Iran.

Rouhani mengancam akan mulai menjaga kelebihan uranium dan “air berat” (air isotop H-2) dari program nuklirnya, yang merupakan pelanggaran sebagian dari kesepakatan nuklir tersebut.

Dia juga menetapkan batas waktu 60 hari untuk persyaratan baru perjanjian nuklirnya dengan Inggris, Perancis, Jerman, Cina, Rusia, dan Uni Eropa, tanpa melibatkan AS. Jika tidak, kata Rouhani, Iran akan melanjutkan pengayaan uranium yang lebih tinggi.

Postcomended   Facebook Bakal Hapus Akun "Berbahaya", Termasuk Milik Tokoh "Nation of Islam"

“Setelah satu tahun bersabar, Iran menghentikan langkah-langkah yang membuat AS tidak mungkin melanjutkan,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dari Moskow, melalui akun Twitter-nya.

Bulan lalu, Trump menunjuk Iran Islamic Revolutionary Guards Corp (Garda Revolusi Iran) sebagai organisasi teroris. Garda Revolusi Iran adalah sayap elit militer negara yang juga merupakan pilar luas negara dan yang tentakelnya meluas ke peran besar dalam urusan ekonomi, politik dan social.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top