Ditemukan fosil diduga gigi binatang purba di Maribaya Bumiayu ... BanyumasNews.com951 × 535Search by image Fosil gigi diduga binatang purba (@puadhasan)

Ditemukan fosil diduga gigi binatang purba di Maribaya Bumiayu … BanyumasNews.com951 × 535Search by image Fosil gigi diduga binatang purba (@puadhasan)

Kisah bagaimana umat manusia tiba di Asia Tenggara mungkin harus ditulis ulang berkat temuan gigi purba di Sumatra Barat. Para ahli telah menganalisis dua gigi yang semula diduga gigi kera besar (hominid), yang ditemukan di sebuah gua di Indonesia pada abad ke-19. Namun kemudian mereka menyimpulkan, ini adalah gigi manusia modern yang datang ke Indonesia 13.000 tahun lebih awal dari perkiraan semula.

Dalam studinya para ahli ini mengklaim, nenek moyang kita telah berada di kepulauan ini 13.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan semula, yakni antara 73.000 dan 63.000 tahun lalu. Ini terkait dengan teori baru tentang permukiman manusia di Australia, dan merupakan yang pertama kalinya manusia diketahui mendiami hutan hujan.

Penelitian ini dilakukan satu tim ahli, termasuk Dr Kira Westway, dari Macquarie University, Sydney, Australia. Studi genetik sebelumnya menyebutkan bahwa manusia modern tinggal di Asia Tenggara lebih dari 60.000 tahun yang lalu.

Bukti fosil fisik sulit didapat, namun kedua gigi yang ditemukan di Lida Ajer, sebuah gua era zaman es Pleistosen, menawarkan jendela unik ke masa lalu kita yang kuno.

Postcomended   CIKAHURIPAN LEMBANG BANDUNG BARAT JAWA BARAT INDONESIA

Mereka lalu menyimpulkan, gigi yang ditemukan di Lida Ajer ini tak diragukan lagi sebagai gigi manusia, yang bukan termasuk spesies hominid (kera besar) atau spesies hewan lain.

“Kami ingin menyatakan secara tegas bahwa gigi tersebut secara anatomis adalah gigi manusia modern,” seru para peneliti tersebut.

Untuk diketahui, istilah “hominid” digunakan dalam pengertian terbatas sebagai hominin atau “manusia dan kerabat dekat manusia yang lebih dekat daripada simpanse (kera besar)”. Dalam hal ini, semua spesies hominid, selain Homo sapiens, telah punah.

Lida Ajer berada di Padang Raya, Sumatera Barat, yang memiliki lingkungan hutan hujan yang kaya. Padahal para ilmuwan sebelumnya berpendapat, rute yang disukai manusia modern yang bermigrasi keluar dari Afrika, berada di sepanjang pantai.

Lingkungan laut akan menawarkan lebih banyak kesempatan untuk mengumpulkan makanan. Sebaliknya, hutan hujan, dengan sumber musiman dan sumber makanan yang sangat buruk, akan menimbulkan kesulitan serius dalam pendudukan oleh manusia.

Keberhasilan eksploitasi lingkungan hutan hujan menuntut perencanaan dan inovasi teknologi yang kompleks dari seorang manusia. Data para penulis, yang diterbitkan di jurnal Nature, menunjukkan bahwa fenomena ini ada di Asia sebelum 70.000 tahun yang lalu.

Indonesia dianggap sebagai kunci batu loncatan yang membantu manusia modern menyebar dari Asia ke daratan prasejarah yang sekarang membentuk Australia dan Papua Nugini.

Postcomended   Badak Cula Satu Hanya Tersisa di Indonesia

Para ahli yang mempelajari artefak kuno di Australia mengumumkan temuan baru dalam beberapa pekan terakhir yang dapat menguatkan temuan penelitian baru tersebut. Mereka mengatakan “teknik penuaan baru” mendorong kembali tanggal dari mana manusia tiba di benua kangguru itu hampir 20.000 – 65.000 tahun yang lalu.

Namun, alat-alat batu yang ditemukan di pulau-pulau besar di Indonesia pada 2016 menunjukkan, mereka bukanlah spesies manusia pertama yang berani menerjang samudera untuk mencapai surga tropis ini.

Sebagai gantinya, temuan tersebut menunjukkan bahwa spesies misterius pelaut kerabat manusia awal, tinggal di pulau itu sampai 194.000 tahun yang lalu; mendahului kedatangan spesies kita sendiri hingga puluhan ribu tahun.

Serpihan batu itu berbentuk pisau tajam yang digali di empat lokasi di Talepu, hutan Indonesia di sepanjang Sungai Walanae, sebelah timur laut Maros, Sulawesi selatan. Penduduk awal ini bisa saja menjadi anggota dari apa yang disebut Hobbit, Homo floresiensis; manusia primitif setinggi tiga kaki yang ditemukan tinggal di satu gua di pulau Flores dari 190.000 tahun lalu.

Alternatifnya bisa jadi Homo erectus, yang sisa-sisanya ditemukan di Jawa sekarang. Bahkan bisa jadi Denisovans, sepupu Asia dari Neanderthal.

Postcomended   Pesona Bahari Belitung Sapa Peserta Sail Indonesia 2017

Homo floresiensis adalah spesies yang hampir pasti punah, dalam genus Homo. Peninggalannya termasuk “Manusia Flores”, alias “hobbit”, atau juga diberi nama “Flo”. Umur arkeologinya berkisar 94.000-13.000 tahun lalu. Fosil Flo ditemukan oleh Mike Morwood (alm) dan timnya dari Indonesia pada 2003 di Gua Liang Bua, pulau Flores, ndonesia.

Sebagian dari sembilan kerangka individu Flo telah ditemukan, termasuk satu tengkorak lengkap. Karakter utama hominin ini adalah tubuh dan otaknya yang kecil. Itulah kenapa dijuluki hobbit. ***(ra)