sumber gambar: https://news.videonews.us/almost-50-percent-of-trumps-twitter-followers-are-bots-or-fake-accounts-3154008.html

sumber gambar ilustrasi: https://news.videonews.us/almost-50-percent-of-trumps-twitter-followers-are-bots-or-fake-accounts-3154008.html

SparkToro, Selasa (9/10/2018), merilis analisis terbaru yang menyebutkan mayoritas pengikut Twitter Presiden AS Donald Trump adalah spam, bot, propaganda, atau akun yang tidak aktif. Jumlah follower dengan akun “palsu” ini bahkan disebut jauh lebih banyak dibanding akun sejenis yang dimiliki Barack Obama dan Hillary Clinton, dengan angka yang dianggap mengejutkan. Ini mengungkap adanya praktik jual beli akun tak terkecuali di Indonesia.

SparkToro, perusahaan pemasaran online yang dibuat oleh salah satu pendiri Moz, Rand Fishkin, melakukan analisis terhadap 54.7 juta pengikut (follower) Trump di Twitter dan mengatakan 61 persen pengikut presiden kemungkinan tidak nyata.

Angka ini, seperti dilaporkan laman Newsweek, mengejutkan, terutama terkait akun yang dikreditkan Trump sebagai telah membantu dia menjangkau pendukungnya dan memenangkan kursi kepresidenan.

Bandingkan dengan Obama dan Clinton: dari 103 juta pengikut Obama, 40,9 persen tidak nyata; sementara 43,8 persen dari 23,5 juta pengikut Clinton juga dianggap bot, spam, propaganda atau tidak aktif.

Analisis juga menunjukkan 41,5 persen dari 6,65 juta pengikut Wakil Presiden Mike Pence kemungkinan palsu, seperti 41 persen mantan Wakil Presiden Al Gore, 33,7 persen Senator Elizabeth Warren, dan 50 persen Gubernur California Jerry Brown.

SparkToro menempatkan akun di sepanjang rentang skor dari satu hingga 10. Skor antara satu dan tiga diberi label sebagai “kualitas rendah” dan dengan demikian lebih cenderung sebagai spam, bot atau propaganda. Skor antara 8-10 akan dijuluki “berkualitas tinggi” atau pengguna yang jauh lebih aktif.

Postcomended   Go-Jek Mulai Main di Bisnis Media

Skor ditentukan oleh jumlah “sinyal” akun yang dipicu, seperti berapa lama mereka tidak aktif, penggunaan gambar profil “telur” Twitter, atau bahkan apakah mereka menembakkan cuitan yang jumlahnya tidak normal banyaknya dalam sehari.

“Lebih dari 35% pengikut akun resmi Presiden AS tersebut, @realdonaldtrump, adalah akun yang memicu 10+ sinyal spam/pengikut palsu yang berbeda (dan dengan demikian memiliki skor kualitas serendah mungkin atau ‘1’),” tulis laporan tersebut.

“Ketika dibandingkan dengan distribusi akun lain, nampaknya @realdonaldtrump memperoleh lebih banyak pengikut yang sangat tidak biasa dan mencurigakan daripada yang lain. Kita dapat berspekulasi tentang alasannya, tetapi angka-angka ini dapat membuat Anda merasa percaya diri dalam mengatakan bahwa akun tersebut mungkin mencapai kurang dari separuh jumlah pengikut yang dilaporkan oleh Twitter (setidaknya, pada platform itu).”

Postcomended   Peserta Tes CPNS Kedapatan Membawa Benda-benda Aneh

Temuan SparkToro jauh lebih tinggi dari survei awal tahun ini. Sekitar 15 juta pengikut Trump dianggap akun palsu oleh survey Gallup pada Juni lalu alias 29 persen tidak nyata.
Studi Gallup, bagaimanapun, menggunakan sampel lebih dari 2.800 akun, sementara SparkToro menganalisis kesemua 54 juta akun yang mengikuti Trump.

Di AS dikenal nama Devumi, “perusahaan” jual beli pengikut, meskipun pendirinya menyangkal tuduhan tersebut. Laman CNBC menyebutkan, Devumi menjual folloer hanya dengan satu sen dolar atau sekitar Rp 1.350 per akun, bahkan terkadang kurang dari itu, Devumi menawarkannya jasanya  di Twitter, untuk mendongkrak “view” di YouTube, jumlah “play” di situs musik SoundCloud, dan endorsemen di situs jejaring profesional LinkedIn.

Pengikut Palsu SBY

Isu akun palsu telah mengemuka di Indonesia sejak lama. Bukan hanya politisi melainkan juga selebriti. Tentu saja ini demi meningkatkan pamor yang bersangkutan agar dianggap memiliki banyak penggemar yang juga berimplikasi pada bisnis endorsemen (peluang iklan).

Misalnya saja hal ini pernah diungkap lembaga penelitian Prapancha Research (PR) pada 2014 terhadap sejumlah akun yang jumlah pengikutnya fenomenal, termasuk pada akun Twitter Presiden SBY dengan akun resminya @SBYudhoyono.

Postcomended   Supermodel Ini Ikuti Jejak Ivanka Menganut Yudaisme

Akun ini, sebut PR, memiliki 2,7 juta follower. Namun hasil analisis PR menyebutkan bahwa hanya 36 persen atau sekitar 972 ribu pengikutnya yang aktif. Sisanya, sebesar 29 persen adalah akun pasif dan 35 persen diduga akun palsu. Jika benar demikian, bolehlah kita beranggapan bahwa akun medsos politisi yang sedang bertarung saat ini juga dibanjiri akun palsu.***

 

Share the knowledge