#

Teori Bumi Datar

Opini
Share the knowledge

Para “penganut” keyakinan bahwa Bumi itu datar, ternyata benar-benar ada. Pada 30 Desember 2016, mereka menerima tantangan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) untuk mencari kejelasan apakah Bumi itu bulat atau datar.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, berkenan membahasnya kembali bersama Detikcom, Jumat (28/7/2017). Dikataka Thomas, penganut “Bumi Datar” terutama tidak percaya pada gravitasi dan mekanisme gerhana.

Padahal kata dia, keberadaan satelit menjadi bukti gravitasi itu ada. “kalau gravitasi ada, itu artinya Bumi pasti berbentuk bulat,” ujarnya. Berikut ini video penjelasan Thomas Djamaluddin kepada tamunya bahwa Bumi itu bulat

Kepada keempat tamunya Thomas memaparkan sejumlah bantahan bahwa Bumi itu datar dan ihwal kubah langit yang dipercaya menyelimuti Bumi yang berbentuk datar tersebut.

“Satelit diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km, misalnya satelit LAPAN A2 diorbitkan pada ketinggian 650 km (dan satelit ini tidak menabrak sesuatu). Tidak ada kubah langit,” ucap dia. Thomas lalu menampilkan kepada mereka video peluncuran satelit tersebut yang menggunakan roket India.

Postcomended   Efek Skandal Facebook, Foto dan Data Pribadi di Instagram Bakal Bisa Diunduh #FacebookDown

Menjawab pertanyaan bahwa roket yang meluncurkan pesawat ulang alik terbang dalam bentuk melengkung, karena jika vertikal akan menabrak kubah langit, Thomas menjelaskan, efek melengkun karena adanya gravitasi Bumi sehingga lintasannya berbentuk parabola.

“Hal samaterjadi jika kita melempar batu. Batu akan bergerak vertikal dengan lintasan parabola sebelum akhirnya jatuh karena gravitasi.

“Kalau dilempar dengan kekuatan yang besar (dengan roket atau pesawat ulang alik), lintasan parabolanya mencapai ketinggian sampai sekitar 400 – 600 km,” imbuh Thomas.

Postcomended   Istri Gus Dur Masuk "100 Tokoh Berpengaruh" Bersama Donald Trump dan Pangeran Harry

Pertanyaan lain adalah “Bukankah batas langit berupa dome (kubah) sehingga pelangi berbentuk kurva dan tidak pernah ada yang dapat menembusnya?”

Thomas menjelaskan, kelengkungan pelangi bukan disebabkan oleh kubah langit. “Pelangi tampak melengkung setengah lingkaran juga karena batas pandang mata pengamatnya,” ungkapnya.

Pelangi disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh kristal es. Ada sudut dalam kristal es yang menyebabkan pembiasan cahaya sehingga warna yang dihasilkan seolah melingkari titik hubung matahari dan pengamat.

Ada pula yang menanyakan nasib satelit setelah diluncurkan, apakah tidak pernah menabrak kubah langit? Thomas menjawab, “Satelit diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km, misalnya satelit Lapan A2 diorbitkan pada ketinggian 650 km. Tidak ada kubah langit.”


Share the knowledge