#StopKillingRohingyaMuslims

#StopKillingRohingyaMuslims

Pertikaian antara minoritas Rohingya dengan pemerintah Myanmar yang menjurus pada genosida, mungkin memang bukan konflik agama. Namun reaksi emosional Aung San Suu Kyi saat diwawancara seorang jurnalis muslim, adalah noda yang mencoreng Nobel Perdamaian-nya. Suu Kyi berkali-kali ngeles tidak mau memakan umpan yang dilempar Mishal Husain, jurnalis BBC, agar mengecam sikap anti-muslim di Myanmar.

Alih-alih berbesar hati mengiyakan pernyataan jurnalis berdarah Pakistan itu, Suu Kyi malah marah-marah di belakang layar. “Tak seorang pun memberi tahu saya bahwa saya akan diwawancara oleh seorang muslim,” kata Suu Kyi; sebuah reaksi yang dikutip hampir semua media di dunia.

Dia malah kemudian mengungkit “nostalgia” kekerasan yang dialaminya, “Saya pikir di sana banyak orang Buddha yang juga meninggalkan negaranya untuk berbagai alasan. Ini penderitaan kami (saat berada) di bawah rezim diktator,” kata lulusan Universitas London ini seperti dilansir Dailymail, 24 Maret 2016.

Emosi Suu Kyi tersebut bocor ke media melalui tulisan di buku “The Lady and the Generals: Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom”, yang ditulis Peter Popham, jurnalis Independent. Mishal sendiri mewawancara Suu Kyi pada Oktober 2013 untuk acara “Today’s Programme”.

Sabtu, 2 September 2017, komunitas yang menamakan diri Masyarakat Profesional Bagi Kemanusiaan Rohingya, menggelar unjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Mereka membakar foto Suu Kyi seraya menyesalkan sikap diam peraih Nobel Perdamaian ini atas kekerasan militer negerinya terhadap minoritas Rohingya. Unjuk rasa serupa dilakukan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sebuah petisi dibuat di Change.org yang meminta agar Komite Nobel Norwegia mencabut Nobel Perdamaian yang pernah diberikan kepada Suu Kyi.

Petisi yang digagas Emerson Yuntho sejak 2016 ini, pada Minggu (3/9/2017) telah ditandatangani 269.131 orang, antara lain oleh budayawan Goenawan Mohamad, ekonom Didik J. Rachbini, hingga presenter TV, Tina Talisa. Terakhir, ustad Yusuf Mansur tampak ikut berpartisipasi.

Sekretaris Jenderal PBB yang masih gres, Antonio Gutteres, yang tampak menunjukkan kepedulian serius pada nasib etnis Rohingya, meminta Indonesia terus menjalankan peran dalam menghentikan konflik di sana. Ini disampaikan melalui obrolan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.

Postcomended   Garuda Tambah Frekwensi Penerbangan Denpasar-Melbourne

Reaksi ini terkait peristiwa terbaru eksodusnya ribuan warga Rohingya keluar dari wilayah Rakhine, sejak pekan lalu (Jumat, 25/8/2017), yang dipicu pertempuran antara gerilyawan Rohingya yang menyerang pos polisi, dengan militer Myanmar. Puluhan orang baik dari pihak Myanmar maupun Rohingya, tewas.

Mengapa Suu Kyi seolah ogah mengecam perlakuan miring pemerintahnya, lebih tepatnya militer Myanmar, terhadap suku Rohingya? Padahal dahulu dia juga digencet rezim militer negerinya sendiri ini. Mungkinkah perempuan yang di sanggulnya sering terselip bunga anggrek ini sudah lelah?

Dari Republika, kantor berita Religion News Service (RNS) pada 20 Mei lalu menyatakan, dengan posisinya di kepemerintahan Myanmar saat ini, tidak akan ada yang bisa dilakukan Suu Kyi untuk Rohingya.

Saat ini, Si Anggrek baja ini –julukan Suu Kyi–merupakan pemimpin de facto Myanmar, sekaligus pemimpin partai oposisi utama Myanmar, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Sejak April 2016, Suu Kyi juga diangkat menjadi State Counsellor (penasihat negara).

Namun semua posisi itu tak punya garis komando terhadap militer. Dunia berharap posisinya sebagai pemimpin de facto Myanmar bisa berbicara banyak.

Karenanya, ketika ditekan pada masalah Rohingya, anak Jenderal Aung San; tokoh kemerdekaan Myanmar dari kolonialisasi Inggris ini, seringkali berdalih ke persoalan deklarasi tentang hukum negara. Dia bahkan tidak akan mengucapkan kata “Rohingya” pada konferensi pers-nya, sebut RNS.

Seorang analis politik yang memiliki akses ke pemenang Nobel dunia ini, sebut RNS, mengutip apa yang dikatakan Suu Kyi terkait Rohingya. “Saya tidak diam karena perhitungan politik. Saya diam karena siapa pun yang berada di posisi saya akan (melihat) ada lebih banyak darah. Jika saya berbicara untuk hak asasi manusia, mereka (Rohingya) hanya akan menderita. Akan ada lebih banyak darah.”

Postcomended   Sempat Mau Menyerah, Eh Malah Ngetop Berkat "Wonder Woman"

Kendati begitu, Suu Kyi lantang membantah terjadi genosida (pembersihan etnis) terhadap minoritas Rohingya. Dalam wawancara dengan Mishal, Suu Kyi mengakui ada masalah di Rakhine, namun kata dia istilah genosida terlalu keras untuk situasi di sana.

Independent melansir, Suu Kyi menyesalkan kekerasan yang terjadi di negara bagian Arakan yang kini bernama Rakhine, namun menolak menyetujui penghakiman organisasi seperti Human Rights Watch, yang telah menyalahkan umat Buddha Arakan atas penganiayaan terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Isu penganiayaan muslim Rohingya kini agak bergeser ke pertikaian dengan militer Myanmar. Pada kurun 2012-2014, konflik ini pernah memunculkan nama Wirathu, biksu Buddha yang terang-terangan memusuhi muslim, khususnya Rohingya, bahkan dituduh ikut berperan membantai etnis Rohingya dengan dibekingi militer Myanmar.

Konflik ketika itu juga mencuatkan isu kecemburuan ekonomi dan sosial warga Myanmar lainnya, ketika warga Rohingya menguasai ekonomi (perdagangan) di Rakhine. Selain itu, banyak perempuan Buddha yang sisebut-sebut di-Islamkan melalui pernikahan.

Inilah yang membuat Wirathu kian membenci muslim Rohingya, seraya mengambil contoh Indonesia yang kata dia kini mayoritas penduduknya muslim, padahal dahulu merupakan wilayah kerajaan Hindu. Pada konflik waktu itu, rumah-rumah warga Rohingya dibakar.

Kini Wirathu tak banyak menampilkan diri. Bisa jadi karena organisasi ultranasionalisnya, Ma Ba Tha, telah dibubarkan. Wirathu sendiri telah dilarang otoritas Buddha Myanmar untuk berceramah hingga 9 Maret 2018.

Ketika warga Rohingya memutuskan tak lagi mau berdiam diri, melalui kelompok bernama Haraqah al-Yaqin mereka angkat senjata. “Kami telah dianiaya selama 50-60 tahun,” kata Rahim, seorang guru dari Desa Dar Gyi Zar di utara Maungdaw, Rakhine, seperti dikutip Reuters, Oktober 2016. Ini kata Rahim, membuat gerilyawan Haraqah mendapat dukungan orang Rohingya.

Postcomended   Takut Sesat di Jalan? Unduh Aplikasi Moovit!

Haraqah dilaporkan mendalangi tiga serangan pada 9 Oktober 2016. Mereka diduga menyerang pos-pos perbatasan dekat Bangladesh, hingga menewaskan sembilan polisi Myanmar.

Serangan balik polisi Myanmar lebih kejam. Rumah-rumah warga Rohingya diserbu dan dibakar. Ratusan tewas dalam aksi balasan itu, memicu dimulainya gelombang besar pengungsi Rohingya ke Bangladesh.

Konflik pun semakin tajam, yang berujung pada kejadian Jumat lalu. Informasi versi pemerintah seperti diberitakan BBC mengatakan, pertempuran pada Jumat itu pecah setelah 20 pos polisi di Rakhine diserang ratusan gerilyawan Rohingya yang bersenjatakan pisau dan bom buatan.

Bentrokan-bentrokan lain dilaporkan terjadi pada akhir pekan, membuat ribuan warga sipil dari kedua pihak terusir, bahkan sejumlah warga sipil disebutkan tewas.

Dari Tempo, pelapor khusus PBB mengenai masalah hak asasi manusia (HAM) di Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan, pemerintah Myanmar berniat mengusir seluruh warga etnis Rohingya dari negara itu. Caranya dengan operasi militer, aksi kekerasan, hingga pemerkosaan. Dan ini, kata Lee sudah berlangsung lama di negara itu.

Dalam penjelasannya kepada Dewan HAM PBB, seperti dilansir Reuters, 14 Maret 2017, Lee mengatakan, “Berdasarkan survei, pemerintah Myanmar mencoba mengusir seluruh penduduk etnis Rohingya tanpa terkecuali dari negara itu.”

Sebenarnya Suu Kyi bersama mantan sekjen PBB, Kofi Anan, pernah membentuk komite HAM untuk kasus Rohingya, namun kedatangan Anan ke Rakhine ditolak warga Myanmar dengan alasan menolak intervensi asing terhadap masalah dalam negeri Myanmar. Tentu saja upaya itu sangat tidak cukup untuk menaikkan pamor Suu Kyi.***