Kabar gembira untuk pecinta rasa asin. Sebuah buku mengklaim bahwa banyak dari kita bahkan harus makan lebih banyak garam. Tapi tentu saja buku tersebut mendapat banyak tentangan dari pakar kesehatan. Penulis buku tersebut mengatakan, sebagian besar orang  tidak sensitif terhadap garam.

Seorang ilmuwan New York, James DiNicolantonio, mengatakan dalam bukunya “The Salt Fix” bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan penasihat AS dan Inggris mengenai diet, menyarankan secara salah agar kita mengurangi konsumsi garam.

“Sebagian besar dari kita tidak perlu makan makanan rendah garam. Sebenarnya, bagi sebagian besar dari kita, lebih banyak garam akan lebih baik untuk kesehatan kita daripada kurang,” ujar James.

Garam itu penting dan bagus untuk kita, katanya. Mengonsumsi lebih banyak garam, akan mengurangi jumlah gula dalam makanan kita dan membantu menurunkan berat badan.

Menurut dia, diet rendah garam bisa menyebabkan tulang rapuh dan kehilangan ingatan. Sedangkan lebih banyak garam bisa memperbaiki diabetes, klaimnya.

Postcomended   Demi Kue Bella dan Syahrini, Warga Rela Beli Via Calo

“Kristal putih yang dikonsumsi berlebihan yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan penyakit ginjal kronis itu bukan garam, tapi gula,” ujar James.

Lembaga Public Health England (PHE) mengatakan, nasehat di buku itu tidak hanya salah tapi berbahaya. Prof Louis Levy, kepala ilmu gizi di PHE, mengatakan, “Dengan menganjurkan diet tinggi garam, buku ini mengancam kesehatan banyak orang dan ini meruntuhkan bukti yang diakui secara internasional selama ini bahwa diet tinggi garam terkait tekanan darah tinggi yang berisiko memicu penyakit jantung.”

“Saran kami agar industri makanan mengurangi garam dalam makanan telah dibuktikan dengan konsumsi garam di Inggris turun 11% sehingga dipandang sebagai model secara global,” ujar Levy.

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa selama ini telah berhasil membujuk pemerintah menekan perusahaan makanan cepat saji agar mengurangi garam dalam makanan cepat sajinya.

Postcomended   Waspadalah, Telur Ayam Kampung Banyak Diaspalkan

Graham MacGregor, profesor kedokteran kardiovaskular, yang memimpin kampanye penurunan konsumsi garam, mengungkapkan, “Inggris sudah menunjukkan penurunan besar dalam kasus kematian akibat serangan jantung.”

 

American Heart  Association (AHA) merekomendasikan agar kita mengonsumsi tidak lebih dari satu sendok teh garam sehari, setara dengan 2.300 miligram sodium. Sebanyak 75% asupan garam berasal dari makanan olahan, makanan kemasan, atau makanan restoran.

Namun James DiNicolantonio mengatakan, tidak ada bukti bahwa diet rendah garam akan mengurangi tekanan darah pada sebagian besar orang. “Bukti dalam literatur medis menunjukkan bahwa sekitar 80% orang dengan tekanan darah normal (kurang dari 120/80 mmHg) tidak sensitif terhadap efek peningkatan tekanan darah karena mengonsumsi garam.

Di antara mereka yang memiliki prehipertensi (pendahulu tekanan darah tinggi),  kata James, sekitar 75% tidak sensitif terhadap garam. Dan bahkan di antara mereka yang memiliki “hipertensi full-blown”, sekitar 55%-nya benar-benar kebal terhadap efek garam.

Postcomended   Saatnya untuk Berbaikan dengan Kolesterol

 

Berbicara kepada Guardian, James DiNicolantonio menolak kritik PHE bahwa bukunya akan berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Dia malah menyarankan asupan garam yang “normal” adalah 3,000 sampai 6,000 mg per hari. Dan ini bukan diet tinggi garam.

“Jika diet tinggi garam benar-benar membahayakan kesehatan, mengapa populasi pemakan ikan asin tertinggi (Jepang, Korea Selatan, dan Prancis) justru hidup paling lama dengan tingkat penyakit jantung koroner terendah di dunia?” Katanya. ***(ra)

Share the knowledge