Pekerja Jepang kelelahan dan tertidur di kereta subway (expert.ua)

Satu lagi kisah bagaimana orang Jepang sangat menghargai waktu walau hanya tiga menit! Inilah yang membuat Negeri Matahari Terbit ini berbeda dibanding negara lain seperti Indonesia. Namun kedisiplinan keras ala Jepang ini telah dinilai berlebihan oleh orang Jepang sendiri, terlebih sejak terjadinya kasus bunuh diri seorang pegawai karena beban kerja yang berat.

Seorang pegawai negeri sipil kota Jepang terpaksa membayarkan gajinya senilai setengah hari kerja setiap hari karena berulang kali meninggalkan mejanya beberapa menit terlalu awal. Hal ini memicu perdebatan sengit di media sosial karena hukumannya dianggap terlalu keras.

PNS berusia 64 tahun itu belum diidentifikasi. Dilansir laman CNN, Pejabat biro yang memberikan konferensi pers di televisi pekan lalu, mengatakan –seraya memintakan maaf atas tindakan karyawan ini– dia adalah PNS yang dipekerjakan oleh biro transportasi air di Kobe.

Para pejabat mengatakan, pria ini telah meninggalkan mejanya untuk membeli bento makan siang, tiga menit sebelum istirahat makan siang dimulai. Dia telah melakukan pelanggaran ini sebanyak 26 kali selama tujuh bulan terakhir.

Sebagai hukuman, dia ditegur dan harus membayar kesalahannya senilai gaji setengah hari. “Sangat disesalkan bahwa pelanggaran seperti itu terjadi,” kata seorang pejabat biro pada konferensi pers pekan lalu. “Kami sangat meminta maaf untuk itu.”

Keempat pejabat yang hadir saat konferensi pers itu kemudian berdiri bersama dan membungkuk dalam-dalam. Konferensi pers itu dengan cepat mengundang cemoohan dan kritik keras di media sosial. Warganet Jepang menganggap hukuman itu berlebihan.

Seorang pengguna Twitter menulis, “Sekarang ini hidup begitu berat. Tidak ada rehat minum teh, tidak ada rokok, tidak ada chatting.” Yang lainnya berkomentar sinis, bahwa banyak pegawai yang keluar tiga menit lebih cepat untuk merokok.

Atas reaksi keras publik Jepang itu, pejabat urusan umum di biro transportasi air, Jenderal Oka, kepada CNN, mengatakan, “Kami telah menerima kritikan dari dua arah; begitu banyak teguran. Kami harus berpikir lagi apa langkah yang tepat untuk diambil.” Menurut Oka, biro itu menghukum PNS tersebut karena mereka terikat kewajiban sebagai PNS untuk menuntaskan jatah jam kerja.

Tren “Karoshi”
Insiden ini disebut mencerminkan masalah yang lebih besar yang sedang berlangsung dalam budaya “salaryman” Jepang, yang menjadi bumerang setelah tragedy bunuh diri seorang karyawan 24 tahun pada 2015 di sebuah perusahaan periklanan besar.

Para pejabat Tokyo mengakui kasus Matsuri Takahashi itu sebagai salah satu “karoshi”; kematian karena terlalu banyak jam kerja. Menurut pihak berwenang, dia mencatat sekitar 105 jam lembur sebulan sebagai alasan bunuh dirinya.

Takahashi bukanlah korban pertama dari budaya kerja yang tak kenal lelah ini. Istilah “karoshi” telah ada sejak tahun 1970-an, selama ledakan ekonomi Jepang, dan aktivis buruh telah mendorong perubahan sejak 1980-an.

Upaya mereka menghasilkan undang-undang 2014 yang menyerukan kondisi kerja yang lebih baik. Namun undang-undang itu menurut para ahli, tidak memaksa perusahaan untuk benar-benar melakukan perubahan.

Banyak yang mengatakan bahwa undang-undang yang lebih kuat diperlukan, seperti batasan ketat tentang seberapa banyak karyawan dapat bekerja dengan aman, dan denda berat bagi perusahaan yang melanggar peraturan.

Dentsu, perusahaan tempat Takahashi bekerja, setelah insiden itu telah mengurangi waktu lembur hingga maksimum 65 jam per bulan.

Di sisi lain, pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe malah mengeluarkan undang-undang perburuhan yang kontroversial yang akan mengecualikan pekerja profesional tertentu dari batas jam kerja dan peraturan lembur. Rabu (20/6/2018), parlemen Jepang memberikan suara untuk memperpanjang sesi hingga 22 Juli untuk meloloskan RUU tersebut.***

Share the knowledge