Internasional

Tiga Pria Amerika Anggota “Tentara Salib” Divonis Bersalah Rencanakan Pemboman

Diri 'Tentara Salib', Tiga Pria AS Berencana Bom Apartemen Muslim Opini Bangsa Sebut Diri 'Tentara Salib', Tiga Pria AS Berencana Bom Apartemen Muslim

Diri ‘Tentara Salib’, Tiga Pria AS Berencana Bom Apartemen Muslim Opini Bangsa Sebut Diri ‘Tentara Salib’, Tiga Pria AS Berencana Bom Apartemen Muslim

Komunitas imigran Muslim Somalia di Amerika Serikat (AS) nyaris menjadi sasaran kebencian kelompok yang menamakan diri milisi Tentara Salib. Gerakan kelompok yang mengaku anti-pemerintah, anti-Muslim, dan anti-imigran ekstremis ini, keburu dicurigai Biro Investigasi Federal (FBI). Rabu (18/4/2018), tiga pentolan gerakan tersebut dinyatakan bersalah merencanakan pemboman terhadap satu masjid dan kompleks apartemen yang dihuni sekitar 120 imigran Somalia di negara bagian Kansas, AS. Dalam persidangan, terungkap rekaman yang menyebut para imigran Somalia sebagai “kecoak”, hingga munculnya kembali wacana peluru darah babi. Pengungkapan rencana aksi mereka oleh agen FBI, bagai menonton film-film thriller Holywood.

Tiga pentolan milisi Tentara Salib yang dinyatakan bersalah oleh Juri federal di Wichita tersebut adalah Curtis Allen (50), Gavin Wright (49), dan Patrick Eugene Stein (49). Dilansir BBC, setelah sidang empat minggu, ketiganya divonis bersalah dengan dua tuduhan, yakni konspirasi menggunakan senjata pemusnah massal dan konspirasi atas hak-hak sipil.

Mereka disebut terbukti berencana meledakkan empat kendaraan yang penuh dengan bahan peledak di sudut-sudut kompleks apartemen, yang rencananya akan dilakukan sehari setelah pemilu AS pada November 2016. Para tersangka ditangkap sekitar sebulan sebelum hari “H” pemilu.

Tim hukum terdakwa berpendapat bahwa semua rencana kliennya –yang direkam agen FBI yang menyamar– hanya sebatas pembicaraan. Namun Asisten Jaksa AS untuk penuntutan, Anthony Mattivi, mengatakan di pengadilan sehari sebelum vonis, “Tujuan utama mereka adalah untuk ‘membangunkan orang’, dan membantai setiap pria, wanita dan anak-anak di dalam gedung (apartemen).”

Postcomended   Miliarder Sydney Penderita Kanker Ingin Mati Tanpa Meninggalkan Apapun

Menanggapi kasus ini, pada Oktober 2016, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Awad, mengatakan, “Kami meminta para pemimpin politik bangsa kita, dan terutama kandidat politik, untuk menolak meningkatnya Islamophobia di negara kita.”

Dalam persidangan Oktober 2016, masih dari BBC, para tersangka seperti diungkapkan jaksa penuntut, yang diwakili Pejabat Jaksa AS Tom Beall, telah menyiapkan manifesto dan berkonspirasi untuk meledakkan bom di komplek apartemen imigran Somalia.

Mereka diduga mendiskusikan parkir empat kendaraan yang penuh bahan peledak di sudut-sudut komplek apartemen, untuk membuat ledakan besar di kota pengepakan daging, Garden City, tersebut. Mereka berharap pemboman itu akan menginspirasi gelombang serangan terhadap Muslim di seluruh AS.

Stein, sebut Jaksa, menawarkan menyediakan amonium nitrat untuk perangkat bom dan menyumbang hingga 300 dolar AS (sekitar Rp 3,9 juta) untuk bahan lainnya. Stein, yang menurut Jaksa penuntut menjadi pemimpin milisi, tak sadar bahwa salah satu dari mereka kala itu mengenakan kabel, yang akan memorakporandakan rencana mereka.

Jaksa Beall kala itu mengatakan, penyelidikan delapan bulan terhadap mereka telah membawa agen-agen FBI masuk jauh ke dalam budaya kebencian dan kekerasan yang tersembunyi.

Dalam investigasi, seorang anggota milisi seolah memberi petunjuk akan meningkatnya pembicaraan kekerasan. FBI kemudian setuju untuk mengenakan kabel, menyamar seolah-olah informan yang dibayar. Hasil rekaman terhadap mereka selama berbulan-bulan, mengungkap percakapan-percakapan yang menggunakan istilah tak senonoh seperti “f***ing”, “motherf**ker”, “bi***es”, dsj.

Postcomended   Genjot Wisman Tiongkok, Menpar Arief Yahya Tebar Pesona Indonesia di INAWEEK Shanghai 2018.

Misalnya, para anggota milisi saat membahas rencana pemboman, menyebut orang Somalia yang akan menjadi sasaran sebagai “kecoak”. Selain itu, dilansir Huffington Post, Stein diduga mengatakan bahwa “satu-satunya Muslim yang baik adalah Muslim yang mati” dan bahwa dia akan “menikmati” menembak kepala orang-orang Muslim.

“Ketika kami melakukan operasi, tak ada siapa pun yang akan tersisa, bahkan jika itu (seorang anak) berusia satu tahun, saya serius. Saya jamin, jika saya pergi ke misi tersebut, bajingan-bajingan kecil itu bakal dadah,” kata Stein, seperti disampaikan pihak FBI.

Dia juga membahas mencelupkan peluru ke darah babi sebelum menggunakannya, dan mengata-ngatai wanita Somalia yang berpakaian tradisional. Halaman Facebook ketiganya diketahui berisi tautan ke artikel di situs web konspirasi; banyak di antaranya bersifat anti-Muslim.

Ihwal mencelupkan peluru ke darah babi pernah disampaikan Donald Trump saat berkampanye untuk menyindir umat muslim, dengan mengisahkan sejarah tentara AS saat berhadapan dengan pejuang Muslim di Filipina.

Menurut jaksa, dalam satu pertemuan Stein tercatat membahas jenis bom yang dipakai Timothy McVeigh dalam pengeboman di Oklahoma City pada 1995 yang menewaskan 168 orang. Stein sendiri kemudian ditangkap ketika dia memberikan 135 kg pupuk untuk membuat bahan peledak, kepada agen-agen rahasia FBI yang menyamar.

Postcomended   Kembangkan Nomadic Tourism, Banyuwangi Siapkan Karavan

Pihak berwenang mengatakan, para agen juga menemukan foto udara di dalam satu mobil yang menggambarkan apa yang tampak seperti komplek apartemen yang ditandai dengan “x” besar, serta foto udara gereja dan masjid yang digunakan komunitas Muslim Myanmar.

Kelompok ini juga membahas rencana pembunuhan terhadap orang kulit putih pemilik komplek apartemen itu, dengan tujuan mengirim pesan ke para tuan tanah yang menyewakan propertinya kepada pengungsi Muslim. Stein juga diduga mendiskusikan penargetan gereja-gereja yang telah mendukung pengungsi.

Di awal proses pengadilan, seperti disarikan dari Aljazeera, pengacara pembela tak banyak berkomentar, namun ditengarai memikirkan strategi memperluas peluang mendudukan orang-orang dari daerah barat yang lebih pedesaan dan yang banyak mendukung Donald Trump, di kursi juri.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top