(sumber gambar: The Paleo Mom)

Apakah Anda terlalu banyak makan gula? Meskipun jumlah gula tambahan yang direkomendasikan setiap hari mencapai 25 gram (enam sendok teh) untuk wanita, tubuh Anda bisa jauh lebih sensitif. Dan kenyataannya, banyak dari kita mendapatkan asupan gula dari makanan dengan cara yang jauh lebih banyak daripada yang disarankan setiap hari.

Bagaimana Anda bisa tahu apakah asupan gula Anda lebih tinggi dari seharusnya? Karena tubuh setiap orang berbeda, kita masing-masing akan memiliki reaksi berbeda terhadap asupan gula, dengan masing-masing dari kita juga memiliki ambang maksimum berbeda.

Ahli gizi dan spesialis detoks klinis, Autumn Bates, berbagi beberapa tanda yang dapat Anda awasi untuk memutuskan apakah sudah waktunya untuk mengurangi konsumsi gula.

Suasana Hati Berubah-ubah
Jika merasa belum menjadi versi terindah atau paling bahagia dari diri Anda, diet bisa jadi penyebabnya. “Diet tinggi gula dapat menyebabkan Anda mengalami perubahan suasana hati yang parah,” kata Bates. Kondisi ini terjadi karena naik dan turunnya kadar glukosa darah.

Gula, jelas Bates, diserap lebih cepat ke dalam tubuh daripada lemak atau protein, sehingga menghasilkan lonjakan energi sekaligus penurunan yang sangat tiba-tiba. Penurunan itu dapat menyebabkan Anda merasa murung, marah, cemas, kesal, dan benar-benar lapar.

“Membatasi asupan yang manis-manis berpotensi menyeimbangkan suasana hati dan mengarah ke perasaan yang lebih positif secara keseluruhan,” ujar Bates.

Jerawat
Asupan kadar gula yang tinggi telah dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon. “Ketidakseimbangan ini dapat muncul dalam berbagai cara, tetapi salah satu bentuk yang paling umum adalah jerawat,” ujar Bates.

Untuk menetralisasinya, Bates menyarankan untuk menjaga rutinitas kulit tetap sama (misanya rutinitas memberi pelembab), tetapi mulailah mengurangi asupan gula. Ambil beberapa foto kulit Anda sebelum memulai diet rendah gula, agar perbedaannya terlihat.

Sakit Kepala
Mengalami migren lebih dari sekali sebulan? “Lonjakan kadar glukosa darah tiba-tiba, kemudian turun drastis (yang terjadi dengan diet tinggi gula) dapat memicu hipoglikemia,” kata Bates. Gejala umum hipoglikemia, kata Bates, dapat mencakup sakit kepala atau migren. Jika Anda sering mengalami sakit kepala, Anda mungkin mengonsumsi banyak gula.

Ketidakmampuan Menurunkan Berat Badan
Jika Anda merasa sudah berolahraga terus-menerus dan makan cukup sehat tetapi tetap tidak kehilangan berat badan, inilah waktunya untuk menilai kembali kadar gula diet Anda. “Memiliki aliran konstan gula yang ke tubuh Anda membuat tidak mungkin bagi tubuh Anda memanfaatkan lemak yang sudah ada,” katanya.

Ingin membakar lemak? Saatnya menyingkirkan yang manis-manis. Bates menjelaskan, akan jauh lebih mudah bagi tubuh Anda menggunakan gula sebagai sumber energi ketika tersedia (di tubuh). Sementara diet tinggi gula akan membuat sangat sulit bagi tubuh untuk memanfaatkan energi yang tersimpan di tubuh sebagai lemak.

Ketidakseimbangan Hormon
Menurut Bates, bagi wanita khususnya, diet bergula dapat dikaitkan dengan masalah hormonal yang berbeda; ini khusus berlaku untuk wanita dengan sindrom ovarium polycystic (PCOS). “PCOS telah menjadi epidemi pada wanita berusia 20-an dan 30-an,” katanya.

PCOS adalah gangguan keseimbangan kadar hormonal di usia subur. Kondisi ini menyebabkan hormon wanita yang menderita PCOS menjadi tidak seimbang karena hal-hal yang tidak diketahui.

Dua faktor utama yang menyebabkan PCOS adalah stres dan asupan gula yang berlebihan. Fakta menarik bahwa stres juga dapat menyebabkan semua gejala yang disebutkan di atas yang juga disebabkan gula. Jadi makan gula hampir seperti makan stres.

“PCOS telah dikaitkan dengan resistensi insulin, yang dapat disebabkan oleh gula yang berlebihan dalam diet,” kata Bates. Perlu diingat bahwa bahkan jika PCOS Anda tidak disebabkan oleh gula, Anda dapat berpotensi mengendalikan gejala dengan mengurangi asupan gula. (***/popsugar)

Share the knowledge