Badai Harvey membuat pendaratan kedua pada Rabu (30/8/2017), membawa hujan deras dan memacu banjir tambahan di kota-kota kecil di Texas yang terletak di sebelah timur Houston yang sudah luluh lantak. Namun badai telah melupakan perbedaan di antara manusia. Sejumlah orang dari berbagai suku membuat rantai manusia untuk menolong seorang pria tua yang terjebak banjir di dalam mobilnya. Di lokasi lain, banjir telah membuat jalan tol berubah menjadi seperti lautan.

So chilling. It looks like the middle of the ocean!

A post shared by Daily Mail (@dailymail) on

Badai Harvey kembali berayun pada Rabu ke Teluk Meksiko, dan tiba di darat pada dini hari di dekat perbatasan Texas-Louisiana, Amerika Serikat (AS). Kota-kota di Texas termasuk Orange, Port Arthur, dan Beaumont, dihantam hujan lebat yang menciptakan banjir setinggi sekitar paha orang dewasa.

Pejabat kota mengatakan, Port Arthur; satu kota berpenduduk 55 ribu jiwa, sudah berada di bawah air.  Satu tempat penampungan korban banjir pun kebanjiran.

Postcomended   Ibukota yang Ditinggalkan itu Kini Padat Lagi

Dilansir Washington Post, Sedikitnya, 37 orang dinyatakan tewas. Namun saat air surut, korban yang ditemukam tampaknya lebih banyak lagi. Otoritas Harris County menemukan sebuah mobil van berisi enam anggota keluarga yang sudah terombang-ambing banjir sejak beberapa hari lalu. Keenamnya tewas.

Dua orang lainnya yang sedang berusaha menolong tetangganya ditemukan tewas karena tersengat listrik dari kabel yang jatuh ke genangan air banjir.

Detikcom mengabarkan, berdasarkan pantauan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), diperkirakan terdapat 120 WNI yang tempatnya tinggalnya terendam. Sebagian besar WNI telah dievakuasi ke beberapa shelter setempat, gereja, dan masjid Indonesia.

Postcomended   Akhir 2017 Jamaah Haji Bisa Naik Kereta Peluru Haramain

National Geographic menyebutkan, topan Harvey di Texas kali ini menjadi bencana paling serius sejak topan Wilma tahun 2005 silam. Kekuatannya yang membesar dengan cepat, datang berulang, dan dalam durasi yang lama, menjadikan Harvey sebagai topan besar Kategori 3 pada skala Saffir-Simpson, bahkan sempat meningkat pada Jumat malam (25/8) hingga kategori 4.

Skala Saffir-Simpson adalah skala klasifikasi besarnya badai, angin dan siklon tropis berdasarkan kecepatan angin ribut, yang menandakan bahwa angin tersebut dapat menyebabkan kerusakan yang menghancurkan.

Ahli meteorologi masih berusaha mengungkap rahasia dibalik peningkatan topan yang begitu cepat. Ahli meteorologi dan pendiri situs Weather Underground, Jeff Masters, menjelaskan, angin topan mendapatkan energi dahsyat dari air laut yang telah dipanaskan hingga kurang lebih 80 derajat Fahrenheit.

Perkembangan topan bisa terhambat oleh adanya angin tingkat atas—yang dikenal sebagai Wind Shear—yang menganggu sirkulasi badai dan dapat menyebabkan hilangnya kekuatan badai tersebut.

Postcomended   Tolak Lemak Jahat dengan Pola Makan Sehat

Dalam sebuah tulisan di blog-nya pada 26 Agustus 2017, Masters mengungkapkan, topan Harvey telah melewati air yang sangat hangat, setidaknya 85 derajat Fahrenheit, selama lebih dari enam jam sebelumnya. Harvey juga tidak terganggu oleh Wind Shear, sehingga kondisi tersebut mendorong intensifikasi yang cepat pada Harvey.***