Lira Turki (Business Recorder)

Krisis di Turki saat ini disebut merupakan campuran kekuatan ekonomi dan politik yang berbahaya. Mata uang negara ini, Lira, merosot lebih dari 40% sejak Januari 2018, dengan pasar sahamnya  terpotong setengahnya. Namun Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berlagak punya nyali untuk tidak beralih ke mata uang asing, dan menolak keterlibatan IMF. Di sisi lain perselisihan dengan Washington menajam.

Erdogan mengatakan Selasa (14/8/2018), bahwa Turki akan memboikot produk elektronik  asal Amerika Serikat, antara lain iPhone. Ancaman itu disampaikan Turki setelah AS menjatuhkan sanksi dan menaikkan tarif terhadap Ankara akibat perselisihan terkait penahanan pendeta evangelis AS.

Erdogan mengatakan Turki telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan di tengah penurunan dalam mata uang lira, tetapi penting untuk mempertahankan sikap politik yang kuat. “Beralih ke mata uang asing berarti menyerah pada musuh,” kata Erdogan, dilansir Reuters. 

Padahal para pengamat yakin, dengan kondisi lira seperti saat ini, Erdogan pada akhirnya harus menyerah juga pada IMF, yang akan memaksa pembaruan independensi bank sentralnya. “Gejolak pasar pada akhirnya dapat memaksanya untuk pergi ke IMF,” tulis Win Thin, kepala strategi mata uang emerging market di Brown Brother.

Postcomended   Dr Zakir Naik Kehilangan Kewarganegaraan dalam Pelariannya

Gejolak moneter Turki ini menyusul insiden mata uang serupa di Argentina yang menyebabkan penyelamatan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Argentina diketahui telah melakukan bailout IMF sebesar 50 miliar dollar AS (sekitar Rp 700 triliun). Dalam beberapa hari terakhir, rubel Rusia, rupee India dan rand Afrika Selatan juga telah jatuh secara dramatis.

Yang menarik, gejolak ekonomi Turki belum berpengaruh signifikan terhadap Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG ) di Bursa Efek Indonesia memerah dan rupiah memang melemah. Belakangan ini rupiah telah bertengger di posisi 14.600. Kendati begitu, ekonom menilai krisis Turki tak akan berdampak signifikan terahadap ekonomi Indonesia, pasalnya nilai perdagangan dengan Turki tidak banyak.

Melihat kondisi ini, investor di bursa efek kini sedang harap-harap cemas mengawasai tanda-tanda kemungkinan terulangnya krisis moneter Asia pada 1997-1998 yang dimulai ketika baht Thailand terkapar, seiring dollar AS yang menjulang.

Postcomended   Presiden Donald Trump Mulai Usik Perdagangan dengan Indonesia

Greenback yang lebih kuat adalah resep untuk bencana bagi pasar negara berkembang seperti Turki yang menghabiskan utang dengan harga dolar. “Utang itu menjadi sangat mahal ketika mata uang Anda meledak seperti yang dimiliki lira,” kata Nicholas Colas, pendiri DataTrek Research, seperti dilaporkan CNN.

Kekuatan dolar telah mendorong investor untuk menarik uang dari pasar yang berisiko, demi aset Amerika yang lebih aman. Dimulai ketika Turki, di bawah menteri keuangan yang masih kakak ipar Erdogan, menolak menaikkan suku bunga bank sentralnya padahal inflasi melonjak. Investor tak mau ambil risiko, mereka pun kabur dari lira.

Berbagai kecaman ditudingkan para pelaku investasi kepada Turki. Ada yang menyebut “tidak kompeten”, hingga yang merekomendasikan Turki kepada kliennya sebagai  “kekacauan mutlak”; sesuatu yang khas dari beberapa pasar yang sedang berkembang. “Perdana menteri menyalahgunakan kekuasaan dan bank sentral kehilangan kemerdekaannya,” tulis Andres Garcia-Amaya, CEO of Zoe Financial.

Menurut analisis CNN, pasar Turki terlalu kecil. Sementara itu, pasar negara berkembang secara luas telah menimbun cadangan yang dapat digunakan untuk memadamkan api. Secara kritis, banyak negara juga telah meninggalkan pasak mata uang yang telah memperburuk krisis keuangan Asia. Para investor berharap hal itu akan cukup untuk mencegah terulangnya kehancuran di akhir 1990-an silam.***

Postcomended   Diduga Anti-Vaksin, Anak Artis ini Terserang Campak (1)

 

 

Share the knowledge