Internasional

Turki Mulai Terima Kloter Pertama Sistem Rudal Rusia S-400, NATO Gerah

Share the knowledge

Sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia mulai dikirim ke Turki yang adalah negara anggota NATO (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=y4fzC-OIJEg)

Sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia mulai dikirim ke Turki yang adalah negara anggota NATO (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=y4fzC-OIJEg)

Ada yang salah ketika anggota NATO membuka diri untuk membeli persenjataan dari musuh NATO. Namun inilah yang terjadi. Jumat (12/7/2019) negara ini mulai menerima gelombang pertama sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. NATO tak tinggal diam.

Informasi ini dilaporkan kementerian pertahanan Turki, di bawah peringatan berulang kali dari sekutu NATO-nya, Amerika Serikat (AS), terhadap pembelian itu.

“Pengiriman pengiriman pertama bagian-bagian sistem pertahanan rudal udara jarak jauh S-400 dimulai pada 12 Juli 2019 ke pangkalan udara Murted (awalnya bernama Akinci) di Ankara,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dilansir laman AFP.

Pengiriman, yang dilakukan dengan pesawat ini, kemungkinan akan meningkatkan ketegangan dengan AS setelah Washington memperingatkan minggu ini bahwa akan ada konsekuensi “nyata dan negatif” jika Ankara membeli sistem pertahanan Rusia.

Rusia ketika masih bernama Uni Soviet di masa perang dingin, pernah membentuk pakta pertahanan sendiri, Pakta Warsawa, untuk mengimbangi pakta pertahanan dengan keanggotaan umumnya dari negara-negara Barat tersebut.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa para pejabat Turki sepenuhnya menyadari adanya Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi) suatu undang-undang yang disahkan Kongres pada 2017 yang mengamanatkan sanksi untuk setiap pembelian senjata “signifikan” dari musuh AS, da;am hal ini Rusia.

Postcomended   Ilmuwan Temukan Fosil Dino Karnivora yang Beradaptasi dengan Iklim Gurun Brasil

Washington telah mengancam akan mengeluarkan Turki dari program jet tempur F-35, yang memberi Ankara waktu hingga 31 Juli untuk memilih: membatalkan pembelian S-400, atau pilot-pilot Turki akan ditendang dari pelatihan dan diusir dari AS.

Tetapi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan seusai bertemu dengan mitra AS Donald Trump bulan lalu (Juni 2019) bahwa dia yakin Ankara tidak akan menghadapi sanksi karena membeli sistem rudal Rusia.

Erdogan mengatakan kepada Trump selama pertemuan mereka di sela KTT  G-20 di Jepang bahwa mantan Presiden AS, Barack Obama, telah tidak mengizinkan Ankara membeli rudal Patriot, rudal buatan AS yang setara dengan S-400. Menanggapi itu, Trump berkata, “Anda tidak bisa melakukan bisnis seperti itu. Itu tidak baik.”

Beli Rudal Rusia atau Pilot Turki Diusir dari AS

Saat KTT NATO di Washington April lalu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, dilansir laman Sputniknews, bahwa Turki akan memberitahu Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, bahwa pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia adalah ” kesepakatan yang telah dilakukan”.

Postcomended   Kapten Pesawat MH370 Mengajak Penumpang ke Kematian

Beberapa jam setelah pernyataan Cavusoglu itu, Wakil Presiden AS Mike Pence memperingatkan Ankara agar tidak membeli sistem anti-rudal Rusia yang dianggap Washington sebagai ancaman terhadap peralatan militer AS.

“Turki harus memilih. Apakah Turki ingin tetap menjadi mitra penting dalam aliansi militer paling sukses dalam sejarah (NATO) atau apakah Turki ingin mengambil risiko keamanan kemitraan itu dengan membuat keputusan nekat yang merusak aliansi kita?” Pence mengatakan dalam sambutannya di KTT tersebut.

Rusia dan Turki telah menandatangani perjanjian pinjaman untuk pasokan sistem pertahanan udara S-400 pada 2017. Pada awal Maret 2019, Erdogan menegaskan kembali bahwa kesepakatan dengan Rusia tentang pengiriman sistem pertahanan udara S-400 telah selesai, dan mengatakan kesepakatan baru tentang pembelian sistem S-500 canggih buatan Rusia dimungkinkan di masa depan.

Selama ini Turki memang merupakan negara sekutu Barat dan anggota NATO yang paling akrab dengan Rusia. Saat perang Suriah yang baranya masih mengepulkan asap, negara yang secara geografiis merupakan transisi Asia Eropa ini mendukung serangan ke rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun di sisi lain, Turki juga bersekutu dengan Rusia.

Postcomended   “Comeback” Politik Si Sukarno Kecil di Usia 92

Turki berdalih bahwa mereka membela kebenaran. Tahun lalu, Wakil Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdag, mengatakan, negaranya bebas bersikap soal Suriah atau independen, tak terbelenggu dengan negara lain. “Kebijakan Turki soal Suriah bukan kebijakan yang berada di pihak yang sama atau bertentangan dengan negara lain,” kata Bozdag. “Siapa pun yang membela kebenaran, kami berada di pihak mereka.”***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top