Loading...
Lifestyle

Twitter Bakal Hapus Cuitan Tidak Manusiawi yang Menyasar Kelompok Agama

Share the knowledge

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=V-WThh0LwsI)

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=V-WThh0LwsI)

Jejaring sosial Twitter mengumumkan pembaruan aturan baru terkait bahasa kebencian yang diarahkan pada kelompok-kelompok agama. Artinya, Twitter alan memperluas aturannya tak hanya melarang ujaran kebencian terhadap tokoh-tokoh agama secara individu.

Twitter mengumumkan pembaruan kebijakannya ini pada Selasa (9/7/2019) dan langsung berlaku, dengan praktik moderasi segera diperbarui untuk menegakkan aturan baru, dikutip dari laman The Verge. Namun Twitter menegaskan bahwa aturan ini akan menjadi semacam proyek percontohan untuk penerapan standar serupa terhadap kelompok-kelompok lainnya yang dilindungi.

Sebelumnya, jejaring sosial Facebook telah lebih dulu memiliki kebijakan serupa yang melarang dehumanisasi ucapan dan serangan terhadap individu atau kelompok yang berbagi karakteristik seperti ras, etnis, orientasi seksual, atau afiliasi agama.

YouTube juga melarang konten yang mempromosikan kekerasan atau kebencian terhadap individu atau kelompok berdasarkan kategori seperti usia, kecacatan, dan ras.

Sebelum mengumumkan aturan baru ini, tahun lalu (2018) Twitter telah meminta publik untuk membantu menulis ulang kebijakan dehumanisasinya tersebut, yang pada awalnya mengusulkan kebijakan melawan dehumanisasi terhadap “kelompok yang dapat diidentifikasi” secara umum.

Perusahaan menerima 8.000 tanggapan dari orang-orang di lebih dari 30 negara, dengan banyak umpan balik menunjukkan bahwa kategori ini terlalu luas, dan kelompok-kelompok kecil perlu didefinisikan. Akibatnya, Twitter menguji kebijakannya dengan larangan dehumanisasi pada kelompok agama secara khusus.

Postcomended   Beijing Didukung Tentara Patriotik yang Siap Tangkal Citra Buruk Terkait Uyghur

Kebijakan baru ini menjabarkan contoh spesifik konten yang menarget anggota kelompok agama yang harus dihapus jika dilaporkan. Cuitan tidak manusiawi orang atas nama keberpihakan agama mereka misalnya menyebut mereka sebagai “tikus” (tikus), “viruses” (virus), dan “hewan kotor” (filthy animals) –yang sekarang secara eksplisit dilarang oleh aturan platform.

“Kami membuat aturan untuk menjaga orang-orang tetap aman di Twitter, dan mereka terus berevolusi untuk mencerminkan realitas dunia tempat kami beroperasi,” tulis tim keselamatan Twitter dalam sebuah posting blog. “Fokus utama kami adalah mengatasi risiko bahaya offline, dan penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang tidak manusiawi meningkatkan risiko itu.”

Bahaya offline yang dimaksud Twitter adalah reaksi dalam kehidupan nyata atas ujaran kebencian yang dilontarkan di dunia maya (internet).

Contoh cuitan yang dianggap melanggar kebijakan Twitter antara lain seperti: “We need to exterminate the rats. They (religious group) are disgusting”, atau “(Religious group) are viruses. They are making this country sick”, atau “(Religious grup) should be punished, We are not doing enough to rid us, of those filthy animal”, atau “We don’t want more (religious group) in this country. Enough is enough with those maggots!”

Postcomended   NASA Bersiap untuk Kunjungan Asteroid Apokaliptik pada 2027

Jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: “Kita perlu memusnahkan tikus. Mereka itu (Kelompok agama) menjijikkan”, atau “(Kelompok agama) adalah virus. Mereka membuat negara ini sakit”, atau “(Kelompok agama) harus dihukum. Kami tidak berbuat cukup untuk menghindarkan kita dari hewan-hewan kotor itu “, atau” Kami tidak ingin lebih banyak (kelompok agama) di negara ini. Cukup sudah dengan para belatung itu!”

Twitter telah lama berjuang untuk mendeteksi dan memolisikan pelaku pelecehan dalam skala besar. Hal inilah yang menghasilkan perubahan signifikan yang berkelanjutan terhadap kebijakan moderasi platform. Akhir bulan lalu, perusahaan mengumumkan, mereka akan memberi tahu pengguna ketika cuitan yang diposting oleh tokoh-tokoh politik terkemuka melanggar aturan platform.

Jika seorang pemimpin dunia mencuitkan sesuatu yang berbahaya, perusahaan sekarang akan menempatkan kotak abu-abu sebelum cuitan itu memberi tahu pengguna bahwa kontennya melanggar kebijakannya. Pengguna kemudian harus mengklik kotak sebelum mereka dapat melihat konten

Menanggapi ini, kelompok hak asasi manusia, seperti dilansir laman Deutsche Welle mengatakan, perubahan itu tidak cukup jauh, dan meminta Twitter untuk memperluas aturan pidato kebenciannya ke semua kelompok, tak hanya agama.

Postcomended   Harvard: Bagi yang Sudah Sembuh dari Penyakit Jantung, Aspirin Tak Penting Lagi

Rashad Robinson, presiden kelompok keadilan rasial online, Color of Change, mengatakan: “Kegagalan Twitter untuk melarang semua bentuk dehumanisasi segera menimbulkan keraguan pada komitmen perusahaan untuk sepenuhnya menghentikan kebencian di platformnya.”***

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top