Bagaimana vaksin HPV mempengaruhi skrining kanker serviks? | Info ... Infolabmed Sebuah tinjauan baru untuk melihat skrining kanker serviks di era vaksinasi HPV. Kajian tersebut mencatat bahwa uji coba telah menunjukkan kemanjuran dan ...

Bagaimana vaksin HPV mempengaruhi skrining kanker serviks? | Info … Infolabmed Sebuah tinjauan baru untuk melihat skrining kanker serviks di era vaksinasi HPV. Kajian tersebut mencatat bahwa uji coba telah menunjukkan kemanjuran dan …

Imunoterapi telah mendapatkan dasar untuk melawan musuh keras kepala: kanker ovarium. Sebuah uji klinis kecil menemukan, vaksin kanker yang telah dipersonaliasi, aman dan dapat memperpanjang usia pasien kanker ovarium. Penelitian, yang diterbitkan Rabu (11/4/2018) dalam jurnal Science Translational Medicine, menunjukkan, kelangsungan hidup secara keseluruhan lebih tinggi dua tahun di antara pasien yang menerima vaksin, dibandingkan dengan yang tidak.

Kanker ovarium adalah “silent killer” karena sering tidak terdeteksi sampai didiagnosis pada stadium lanjut. Upaya penyembuhan kanker ini diawali operasi (pengambilan sampel/biopsi), lalu diikuti kemoterapi. Namun kebanyakan pasien (85%) kambuh dan akhirnya mengembangkan resistensi (penolakan) terhadap kemoterapi. Pada titik ini, mereka kehabisan pilihan perawatan.

Namun para ilmuwan melihat, sebagian pasien menunjukkan reaksi kekebalan tubuh terhadap kanker mereka. Dengan kata lain, pasien kanker ini umumnya memiliki tingkat ketahanan hidup yang lebih baik daripada mereka yang sistem kekebalannya tidak bereaksi dengan cara yang sama. Karenanya diharapkan vaksin akan dapat memicu dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien, kata Dr Lana Kandalaft, penulis senior studi ini, serta asisten profesor di Universitas Pennsylvania Perelman School of Medicine, Amerika Serikat (AS).

Postcomended   Kepulauan Seribu Siap Sambut Asian Games 2018

Untuk menguji hipotesis ini, Kandalaft dan rekan-rekannya membuat vaksin yang “dipersonalisasi” untuk 25 pasien yang didiagnosis dengan kanker ovarium lanjutan berulang. Para wanita memiliki kanker ovarium epitelial berulang yang memiliki tingkat harapan hidup rata-rata lima tahun sebesar 17%, menurut American Cancer Society. Dalam proses personalisasi vaksin ini, para ilmuwan membuat setiap vaksin unik menggunakan tumor pasien (disimpan dan diawetkan sebelum operasi) dan sel dendritik dari darahnya.

Di dalam sistem kekebalan tubuh, sel dendritik bertindak sebagai mata-mata yang cerdas. Misi mereka adalah mengidentifikasi para penyerbu asing yang bersembunyi di dalam bayangan antarmuka di antara tubuh kita dan lingkungan: lapisan saluran udara kita, misalnya, dan permukaan usus kita. Begitu mereka menemukan virus atau racun berbahaya, sel dendritik akan menangkap dan menampilkan fragmen dari penyerang di permukaan mereka dan kemudian melakukan perjalanan jauh ke dalam kelenjar getah bening, di mana sel T pembunuh sistem kekebalan tubuh berada.

Di sinilah sel dendritik yang baru diakuisisi, memicu sel T untuk meluncurkan serangan dalam upaya untuk menghancurkan penjajah. Untuk penelitian ini, beberapa pasien menerima vaksin yang dipersonalisasi saja, dan yang lainnya menerimanya dalam kombinasi dengan satu atau dua obat kemo (bevacizumab dan cyclophosphamide).

Postcomended   Mahakarya Gebyar Pesona Budaya Garut (GPBG 2018)

“Para pasien yang menerima vaksin, telah meningkatkan reaksi kekebalan terhadap tumor mereka sendiri,” kata Kandalaft dalam sebuah pernyataan. Dia menggambarkan respon imun tersebut sebagai peningkatan jumlah sel T yang spesifik terhadap tumor dan mampu membunuh tumor.

Masing-masing dari 25 pasien menerima, rata-rata, 16 tembakan vaksin selama penelitian dan tidak ada yang mengalami efek samping yang parah dari vaksin.

Secara keseluruhan, kelangsungan hidup dua tahun tertinggi di antara pasien penelitian responsif yang menerima vaksin dan dua obat kemoterapi: 78 persen pasien yang divaksinasi yang juga menerima obat kemo, bertahan dua tahun, dibandingkan dengan hanya 44% pasien yang menerima obat tetapi tidak vaksin.

Dr Otis Brawley, kepala petugas medis dari American Cancer Society, mengatakan, studi baru ini merupakan “ilmu pengetahuan yang baik” yang “jelas membenarkan uji klinis yang lebih besar.” Namun, Brawley, yang tidak terlibat dalam penelitian, tetap berhati-hati dengan “vaksin perancang” ini. “Analisis survival rentan terhadap beberapa bias, yang dapat menyesatkan bahkan mereka yang paling berpengalaman dari uji klinis,” katanya.

Postcomended   WhatsApp Pastikan Data Pengguna Aman Bahkan dari WhatsApp Sendiri

Secara keseluruhan, Brawley berharap imunoterapi dapat menjadi alternatif pengobatan kanker ovarium. “Metodologi ini telah dilihat pada kanker prostat dan mungkin berguna dalam penyakit lain.” Ke depan, Kandalaft dan rekan-rekannya akan mengupayakan studi lebih besar tentang vaksin ini. Hasil studi saat ini, yang dirancang untuk mengatasi keselamatan dan didanai oleh National Institutes of Health, “menjanjikan, meskipun masih terlalu awal,” katanya.(***/CNN)

Share the knowledge