Vatikan Bakal Buka Arsip Terkait Holokaus Yahudi Sebelum Waktunya

Internasional
Share the knowledge

 

Paus Pius XII, dianggap kontroversial karena sikapnya diamya terhadap kasus holokaus Yahudi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=-7TcevMH1Mw)
Paus Pius XII, dianggap kontroversial karena sikapnya diamya terhadap kasus holokaus Yahudi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=-7TcevMH1Mw)

Delapan puluh tahun setelah Pius XII terpilih menjadi Paus, arsip kontroversial sang Paus terkait peristiwa holokaus akan dibuka, Paus Fransiskus mengumumkan Senin (4/3/2019). Namun arsip yang ditunggu-tunggu kaum Yahudi ini masih akan dielus-elus hingga Maret 2020.  

Keputusan itu mengikuti lebih dari setengah abad tekanan. Pius XII, seorang pahlawan konservatif Katolik, yang dengan penuh semangat menunggu kanonisasi sebagai seorang suci, banyak dikecam karena dianggap gagal mengutuk peristiwa holokaus dan genosida (pembantaian dan pembersihan etnis) Nazi terhadap orang-orang Yahudi Eropa.

Ini membuatnya Pius XII menjadi paus paling kontroversial dalam sejarah Gereja. Sputniknews melaporkan, sejumlah orang menyebutkan, Paus Pius XII –yang memerintah dari 1939 hingga 1958– menutup mata terhadap holokaus.

Vatikan selama ini telah membela Pius XII, dengan mengatakan bahwa dia bekerja secara diam-diam di belakang layar untuk menyelamatkan orang Yahudi agar tidak menarik perhatian dan memperburuk situasi.

Seperti diketahui, Vatikan secara rutin menunggu hingga 70 tahun setelah kematian seorang paus untuk membuat arsip mengenainya atau yang dibuatnya hingga dapat diakses umum. Tetapi tekanan telah mendorong Takhta Suci untuk memublikasikan dokumen-dokumen tentang Pius XII lebih cepat, sementara para penyintas holokaus masih hidup.

The Atlantic dalam laporannya menyebutkan, tuntutan agar Vatikan membuka arsipnya dari era Perang Dunia II itu, mulai terdengar pada 1963, mengikuti pemutaran perdana di Jerman dari permain teatrikal Rolf Hochhuth, “The Deputi”. Pertunjukan panggung ini menggambarkan Pius XII yang berhati dingin menolak semua permohonan untuk mengutuk pembantaian orang-orang Yahudi; dan hanya peduli melindungi kepentingan institusional Gereja.

Postcomended   Tahun Depan, Roket SpaceX Cuma Butuh 24 Jam untuk Sampai Mars

Dalam upaya untuk menanggapi tekanan para kritikus, Takhta Suci menugaskan empat Yesuit untuk membajak arsip dan menerbitkan pilihan dokumen yang menyoroti kontroversi ini. Hasilnya, selama periode 16 tahun yang dimulai pada tahun 1965, ada 12 volume tebal yang berisi ribuan dokumen.

Meskipun para skeptis mencurigai para editor Yesuit memilih dokumen-dokumen yang tidak menarik bagi Gereja, jilid-jilidnya masih jauh dari kesan sederhana tentang sejarah yang kontroversial ini.

John Cornwell dalam buku “Hitler’s Pope” yang terbit 1999 memberi pencerahan baru bagi kontroversi tersebut. Cornwell melaporkan bahwa ia mendapatkan akses tidak sah ke bagian-bagian arsip Vatikan. Dia berpendapat bahwa pada 1933, Eugenio Pacelli, calon Pius XII, membantu Hitler mengakhiri penentangan Katolik terhadap Nazisme di Jerman, sementara Pacelli sedang menjabat sebagai menteri luar negeri Vatikan.

Cornwell juga menulis, setelah diangkat sebagai Paus, Pius tidak hanya minim reaksi untuk memerangi holokaus tetapi, setelah sekutu menang dia tanpa malu-malu berubah haluan dengan menyatakan menentang Nazisme.

Postcomended   3 Mei dalam Sejarah: Novel "Gone with the Wind" Mendapatkan Pulitzer, Lalu Diapdaptasi Menjadi Film

Pada tahun yang sama dengan terbutnya buku Cornwell, Vatikan mengumumkan pembentukan komisi sejarah antaragama yang tidak biasa, terdiri dari tiga cendekiawan Katolik dan tiga cendekiawan Yahudi, yang ditugaskan menjelaskan peran yang dimainkan Vatikan ketika arsip holokaus dibuka.

Setelah memeriksa 12 volume dokumen yang sebelumnya telah diterbitkan, para anggota komisi menyimpulkan mereka tidak dapat menarik kesimpulan sejarah yang memadai tanpa akses ke arsip itu sendiri. Vatikan menolak harapan mereka, disusul keputusan para anggota komisi ntuk menangguhkan pekerjaan mereka; sebuah keputusan yang menimbulkan rasa malu dan polemik.

Sementara itu, desakan untuk menyatakan Pius XII seorang suci terus berlanjut. Pada 2009, Paus Benediktus XVI menyetujui sebuah dekrit yang menyatakan kebajikan heroik dari pendahulunya pada masa perang, sebuah langkah menuju beatifikasi.

Dalam Gereja Katolik, beatifikasi (dari bahasa Latin “beatus”, yang berbahagia), seperti dikutip Wikipedia, adalah suatu pengakuan atau pernyataan yang diberikan Gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa orang tersebut adalah orang yang berbahagia,

Baru-baru ini, partisan dari Pius XII telah mengajukan petisi agar Yad Vashem, peringatan Israel untuk para korban holokaus, menghormati paus sebagai “orang non-Yahudi yang saleh” (righteous Gentile).

Postcomended   Kepala Serigala Zaman Es yang Masih Berbulu Ditemukan di Permafrost Siberia

Pemilihan Paus Fransiskus pada 2013 memberi harapan baru bagi mereka yang ingin melihat arsip Pius XII dibuka. Dengan pengumuman 2 Maret 2020 nanti, Fransiskus telah mengakhiri spekulasi setengah abad.

Mengingat dokumen yang akan tersedia untuk pertama kalinya ini nanti berjumlah sangat besar, kemungkinan akan membutuhkan beberapa tahun hingga publik sepenuhnya dapat mengetahui rahasia yang ada di dalam arsip-arsip tersebut.***


Share the knowledge

Leave a Reply