Suatu virus kuno yang menginfeksi penduduk di Northern Territory, Australia, meninggalkan kematian dan keputusasaan. Dokter menyerukan upaya lebih besar untuk menghentikan penyebaran infeksinya. Virus ini disebut kuno karena DNA-nya diketahui ditemukan pada mumi Andes berusia 1.500 tahun. Meski prevalensinya rendah, namun virus ini juga ditemukan di Amerika Serikat dan Inggris.

Virus Leukemia T-cell Manusia tipe 1 atau disingkat HTLV-1, menginfeksi melebihi 40% di antara orang dewasa di daerah terpencil di Australia tengah. Dilaporkan bahwa komunitas pribumi menjadi yang paling terpukul, terutama di kota Alice Springs.

Banyak dokter, termasuk yang menemukan virus ini hampir empat dekade lalu, meningkatkan alarm tentang betapa sedikit yang telah dilakukan untuk mencegah, menguji dan mengobati HTLV-1, yang dapat menyebabkan leukemia dan limfoma.

“Prevalensi ini di luar grafik di Australia,” kata Dr. Robert Gallo, pendiri dan direktur Institute of Human Virology di University of Maryland School of Medicine. Laboratoriumnya adalah yang pertama kali mendeteksi HTLV-1 pada 1979 dan memublikasikan temuannya pada 1980.

“Namun tidak seorang pun yang dia tahu di dunia telah melakukan apa pun untuk mencoba mengobati penyakit ini sebelumnya,” kata Gallo, yang juga salah satu pendiri dan direktur ilmiah dari Global Virus Network dan memimpin jaringan satgas HTLV-1.

“Hanya ada sedikit hingga nyaris tidak ada upaya vaksinasi, di luar beberapa penelitian Jepang,” katanya. “Jadi pencegahan dengan vaksin terbuka lebar untuk penelitian,” ujarnya.

Postcomended   Buktikan! Rambut Tebal, Berkilau dengan Masker ini

HTLV-1, adalah virus purba yang DNA-nya dapat ditemukan pada mumi Andes berusia 1.500 tahun. Virus ini dapat menyebar dari ibu ke anak, terutama melalui menyusui, juga menular antar pasangan seksual, melalui hubungan seks tanpa kondom, dan dengan kontak darah seperti melalui transfusi. Karena dapat ditularkan melalui aktivitas seks, maka penyakit ini juga dianggap sebagai infeksi menular seksual, atau IMS.

Virus ini juga terkait dengan berbagai masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit pada sistem saraf, serta kondisi yang merusak paru-paru yang disebut bronkiektasis, dan itu melemahkan sistem kekebalan tubuh. HTLV-1 kadang-kadang disebut sepupu dari human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab penyakit AIDS.
Dr. Graham Taylor, seorang dokter dan profesor di Imperial College London yang mengelola pelayanan klinis HTLV Kerajaan Inggris yang berbasis di Rumah Sakit St. Mary, mengatakan, HTLV-1 hadir di seluruh dunia, tetapi ada daerah-daerah tertentu yang endemiknya tinggi, seperti gugus yang langka di Australia tengah tersebut.

Postcomended   Aktris Mandy Moore Wujudkan Impian 18 Tahunnya Mendaki Atap Afrika

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, daerah endemik utama virus ini adalah bagian barat daya Jepang; beberapa bagian dari Karibia; daerah di Amerika Selatan termasuk Brasil, Peru, Kolombia dan Guyana Prancis; beberapa wilayah Afrika intertropis, seperti Gabon selatan; beberapa daerah di Timur Tengah, seperti wilayah Mashhad di Iran; satu wilayah di Rumania; dan satu kelompok terpencil yang langka di Melanesia.

Di tempat lain di dunia, seperti di Amerika Serikat dan Inggris, prevalensinya masih rendah. “Hal yang menarik tentang Australia tengah, tentu saja, adalah Anda dapat kembali 25 tahun, dan tingginya tingkat HTLV-1 ini dipublikasikan 25 tahun lalu di komunitas itu,” kata Taylor.
Tak Perlu Khawatir

Namun kata Gallo, tidak ada alasan bagi seluruh dunia untuk khawatir tentang penyebaran virus lebih luas. Virus ini, apapun variasinya, kata Gallo, tidak akan menularkannya dengan santai.
“Singkatnya, saya tidak akan takut untuk menggunakan handuk, minum dari gelas yang sama, menjadi bagian dari keluarga, dan lain-lain, dari seorang positif HTLV-1,” katanya.(***/CNN)

Share the knowledge