Trump Membual Kisah Jenderal Bunuh 49 Muslim dengan Peluru ... Klikkabar.com4232 × 3174Search by image Trump Membual Kisah Jenderal Bunuh 49 Muslim dengan Peluru Berdarah Babi

Trump Membual Kisah Jenderal Bunuh 49 Muslim dengan Peluru … Klikkabar.com4232 × 3174Search by image Trump Membual Kisah Jenderal Bunuh 49 Muslim dengan Peluru Berdarah Babi

Mungkin sekadar ingin sinis kepada dunia Islam, ketika Presiden Donald Trump mewacanakan “peluru darah babi”. Wacana yang diungkapkan terkait aksi terorisme di Barcelona ini, bahkan sudah keduakalinya dilontarkan mantan presenter program televisi “The Apprentice” ini. Seorang profesor sejarah AS mencatat, pasukan AS memanfaatkan kengerian para pejuang Moro untuk kontak dengan babi, terutama darahnya, namun tidak menemukan fakta seperti yang diceritakan Trump. Media melihat, kisah seperti ini tidak dapat dijadikan landasan kebijakan suatu pemerintah untuk menangani isu terorisme.

Trump di akun Twitter-nya pada 18 Agustus 2017, melempar wacana tentang kisah Jenderal AS, John J. Pershing, saat berperang dengan Muslim Moro, Filipina, seabad lalu. Pershing adalah Gubernur Provinsi Moro saat AS menjajah Filipina pada 1909-1913.

Melalui akun @realDonaldTrump, Trump awalnya mengutuk serangan di Las Ramblas dan menawarkan bantuan untuk Spanyol. Namun kicauannya berlanjut tentang kisah peluru darah babi, seraya menyebut “teroris” kepada orang Moro yang dijajah AS (helaaww!?).

“Pelajari apa yang dilakukan Jenderal Pershing dari AS kepada teroris saat ditangkap. Tidak ada lagi Teror Islam Radikal selama 35 tahun!” kicaunya.

Ternyata Benar, Filter Rokok Memang Mengandung Darah Babi - VOA ... VOA Islam952 × 707Search by image Berita Terkait

Ternyata Benar, Filter Rokok Memang Mengandung Darah Babi – VOA … VOA Islam952 × 707Search by image Berita Terkait

Bukan pertama Trump mewacanakan kisah kebanggaannya ini. Pada Februari 2016, saat kampanye jelang Pilpres AS, dia juga menyampaikan mitos ini kepada para pendukungnya di Carolina Selatan.

Postcomended   Rumah Fesyen "American Eagle" Perkenalkan Jilbab Denim

Kendati banyak pakar sejarah AS menyebut tak ada bukti yang mendukung kisah tersebut, namun menurut Trump kisah itu bersumber dari fakta sejarah Perang Amerika-Filipina (1899-1902).

Pershing kata Trump, melakukan “ritual khusus” kala mengeksekusi 50 pejuang muslim Moro yang menjadi tawanan perang tentara AS.

Saat berkampanye di Carolina Selatan pada Februari 2016 tersebut, Trump menyampaikan bahwa Pershing mencelupkan peluru ke dalam darah babi sebelum menembaki mereka. Metode ini kata Trump, efektif mengusir warga muslim.

Pernyataan Trump ini sempat disayangkan oleh Dewan hubungan Amerika-Islam (CAIR). “Apa yang diucapkan (Trump) bisa memicu kekerasan terhadap komunitas muslim,” kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad, seperti dilaporkan Alarabiya, 22 Februari 2016.

Brian M Linn, profesor sejarah dari Texas A&M University, mengatalan, kisah yang dirujuk Trump itu keluar dari karakter kisah Pershing di Filipina. Linn bersama sejawatnya, Frank Vandiver (meninggal 2005), adalah penulis biografi Pershing.

Postcomended   Mereka Ancam Jakarta Akan Dimarawikan

“Kami berdua memeriksa catatan kami dan tidak menemukan bukti untuk mendukung (cerita Trump) ini,” ujar Linn kepada TIME. Sepengetahuan Linn, kisah ini berasal dari laman elektronik kelompok anti-Islam yang muncul pasca peristiwa runtuhnya menara kembar WTC, 11 September 2001.

Situs pencari fakta Snopes.com, juga mengonfirmasi bahwa tidak ada bukti yang mendukung kisah tersebut. Hal senada tertulis dalam situs Politifact.com.

Kesinisan Presiden AS dari Partai Republik ini tak mengherankan. Sejak masih berstatus pengusaha, Trump seringkali melontarkan ujaran pedas perihal terorisme di kalangan muslim. Trump berpendapat, ajaran Islam adalah “masalah” dan Muslim itu berbahaya

Dan dia tampaknya mengamati bahwa umat Islam seperti memiliki “ketakutan” berlebih pada hewan babi, kendatipun dia boleh jadi mengetahui bahwa muslim memang mengharamkan babi.

Pada 1941, TIME pernah melakukan surat-menyurat dengan seorang tentara bernama J. R. McKey yang pernah bertugas dengan Pershing di Filipina. Menurutnya, pasukan AS tahu sekali kengerian orang-orang Mohammed (salah seorang pejuang Moro) untuk kontak dengan babi, terutama darahnya.

Maka praktik penggunaan babi dalam penguburan jenazah pejuang Moro dilakukan untuk mencegah (menakut-nakuti) pemberontakan Muslim di sana lebih lanjut. Namun kata McKey, itu tidak merujuk langsung kepada Pershing. McKey menulis, “Tentara AS memiliki ‘obat’ yang cukup bagus untuk meredam para juramentado (pejuang Moro).”

Postcomended   Lulusan Fisika Nuklir Jadi Dirut Baru Bank Mandiri

Namun History News Network menyebutkan, sebuah artikel di Chicago Daily Tribune tahun 1927 menggambarkan, Pershing menaburkan darah babi ke tahanan pejuang Moro, lalu membebaskan mereka, seolah untuk memperingatkan yang lainnya. “Tetes darah babi terbukti lebih kuat dari peluru,” tulis artikel tersebut.

Christopher Capozzola, seorang profesor sejarah di Massachusetts Institute of Technology, juga mengutip sebuah kejadian di mana Pershing membawa kepala babi ke sebuah perundingan gencatan senjata dengan seorang pemimpin Muslim.

“Jadi memang ada usaha yang disengaja untuk menyinggung perasaan religius Filipina Muslim,” kata Capozzola kepada TIME. “Dan ya, ada kekerasan besar-besaran terhadap masyarakat mereka. Tapi saya tahu tidak ada praktik seperti yang dijelaskan Mr. Trump.” ***(ra)