WANITA BELANDA YANG LEBIH MEMILIH BERJUANG BERSAMA INDONESIA DOLLY ZEGERIUS

WANITA BELANDA YANG LEBIH MEMILIH BERJUANG BERSAMA INDONESIA DOLLY ZEGERIUS

Politik Trending Berita hari ini
Share the knowledge

Kapal Weltevreden yang bertolak dari Pelabuhan Rotterdam pada 6 Desember 1946 itu tak hanya mengangkut tentara Belanda, tetapi juga lebih dari 200 mantan mahasiswa Indonesia serta warga Belanda yang memutuskan untuk memihak Indonesia, negeri yang baru berumur setahun.

Dolly Zegerius tak pernah bisa melupakan momen keberangkatan itu -bahkan sesudah tujuh dekade kemudian.

“Saya diantar orang tua yang menangis-nangis. Mereka tidak keberatan saya berpihak kepada Indonesia. Mereka keberatannya saya pergi jauh,” Dolly berkisah, saat ditemui di rumahnya, di Jakarta, beberapa pekan lalu.

Mengapa Anda memutuskan berpihak kepada Indonesia? Tanya saya.

“Karena yakin bahwa Indonesia benar. Kita pengalaman dijajah sama Jerman beberapa tahun, bisa merasakan dijajah sama orang asing ya toh? Jadi kemerdekaan (Indonesia) disupport 100%,” cetus Dolly.

Di dalam kapal, Dolly bertemu dengan tiga perempuan dari keluarga Kobus: Betsy, Annie dan Miny, yang sudah dikenalnya sejak awal. Mereka juga memutuskan untuk membela Indonesia. “Mereka sudah lebih dulu di kapal bersama ibu mereka yang ikut ke Indonesia. Sejak itu persahabatan kami erat banget,” kata Dolly.

Dolly Soerjosoemarno saat ditemui di rumahnya. Pada usia senja, Dolly masih bisa mengingat sejumlah kenangan berpuluh tahun lalu. Ke lembaga yang didirikan pada 1910 untuk meneliti kawasan tropis jajahan Belanda itulah Dolly Zegerius sering datang bersama kekasihnya, Raden Mas Soetarjo Soerjosoemarno—seorang pria dari keluarga kesultanan Mangkunegaran Solo yang tengah menempuh studi topografi di Delft.

Saat ke Hindia Belanda itu, Dolly sudah memiliki seorang anak, Narjo, yang berusia 1,5 tahun. Mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 1 Januari 1947.

Postcomended   Masih Tersegel, Game Langka Mario Bros Terjual Ratusan Juta Rupiah

Dipaparkan di buku Enkele Reis Indonesie karya Hilde Janssen, Dolly dan keluarga Kobus itu tidak sendirian. Dari dalam kapal turun 57 perempuan Belanda yang menikah dengan pria Indonesia, 11 pemuda Belanda yang ingin ikut berjuang membela Indonesia, 12 orang Cina, serta sekitar 200 mantan mahasiswa dan awak kapal asal Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, puluhan perempuan Belanda itu melihat Indonesia. Dolly mengaku langsung merasa begitu akrab. “Bayangan saya waktu pertama di Indonesia, kok kayak dejavu? Seperti sudah pernah lihat. Ndak asing sama sekali,” kenangnya dengan mata berbinar.

Di stasiun Kranji, seorang serdadu Belanda melihat Dolly dan Kobus bersaudara. “Dia melihat kami dan berkata, ‘Ke sana?’ Lalu dia menyilangkan jari di dahi. Dia pikir kami orang gila karena rombongan Belanda lain justru menuju Jakarta dan belum lama dibebaskan dari kamp tahanan Jepang,” papar Dolly. Dolly menetap bersama suaminya di Solo.

Pada 21 Juli 1947, pemerintah Belanda mengerahkan ribuan pasukan dalam rangka ‘Aksi Polisionil’, untuk merebut kembali wilayah jajahannya yang memerdekaan diri itu. Pemerintah Indonesia mengenalnya sebagai Agresi Belanda pertama.

Hanya dalam waktu lima hari sejak operasi militer dimulai, para serdadu KNIL telah merangsek ke Kota Malang —tempat Dolly, Annie, dan Miny tinggal waktu itu. Adapun Betsy masih di Jember. Selama beberapa hari Dolly, Annie, dan Miny mendengar ledakan dan suara tembakan. Baru pada suatu pagi, awal Agustus 1947, bunyi-bunyi yang memekakkan telinga itu tiba-tiba berhenti.

Postcomended   9, 10, dan 11 Agustus dalam Sejarah: PD II Berakhir

Tapi Dolly masih ingat, sebelum itu tiga serdadu KNIL datang menenteng senapan ke depan pintu rumah mereka. Dalam bahasa Belanda, Dolly, Annie, dan Miny memperkenalkan diri dan menyebutkan bahwa suami-suami mereka adalah orang Indonesia. “Saya ingat mereka omong, ‘Apa kamu tidak bisa dapat laki-laki Belanda, sampai harus menikah dengan orang Indonesia?’,” kenang Dolly.

19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer kedua

7 Mei 1949 Belanda menandatangani perjanjian untuk menyerahkan kedaulatan Indonesia

3 Agustus 1949 Soekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta dan gencatan senjata praktis dimulai

27 Desember 1949 Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia

100.000 jiwa jumlah korban di pihak Indonesia

Sekelompok tentara Belanda memasuki sebuah kota di Indonesia, pada 4 Januari 1949.
Aksi militer sudah berakhir tapi Belanda masih belum meninggalkan Indonesia. Suatu hari, tak lama setelah Dolly melahirkan putrinya pada 2 November 1947, sejumlah petugas intelijen Belanda datang karena mendapat laporan bahwa Soetarjo mengunjungi istri dan anak-anaknya di Malang. Mereka memaksa masuk walau sang nyonya rumah berkilah bahwa suaminya berada di ibu kota Indonesia, Yogyakarta -padahal saat itu Soetarjo sedang berada di dapur. “Suami saya cerdik, dia melepas bajunya dan kemudian hanya memakai singlet. Dia lalu mencuci piring. Tentara Belanda lewat gitu aja, dikira dia pembantu,” kata Dolly sambil terkekeh. Selamatlah mereka.

Dalam kesempatan lain, saya menjumpai Dolly di rumahnya yang teduh di Jakarta Selatan. Walau berusia 92 tahun, dia sangat energik dan mampu mengingat kejadian puluhan tahun silam. Sesekali dia bertandang ke rumah teman dan bermain bridge.

Postcomended   Serat, Susu, dan Air, Satukan Islam dan Yahudi

Anak pertama Dolly, yang dibawanya dari Belanda di kapal Weltevreden, meninggal di usia bocah. Setelahnya Dolly memiliki dua orang anak lagi, yang dua-duanya dikenal di kalangan masyarakat Indonesia: Marini dan Yapto Soerjosoemarno. Marini adalah penyanyi dan pemain film terkemuka, dan Yapto adalah politikus dan pendiri organisasi yang sering disorot: Pemuda Pancasila.

Kisah Betsy, Annie, Miny, dan Dolly dituangkan dalam buku karya Hilde Janssen berjudul Enkele Reis. Buku itu telah dialihbahasakan dengan judul Tanah Air Baru, Indonesia terbitan Gramedia.


Share the knowledge

Leave a Reply