Internasional

“Warisan” Perang Suriah Versi Rusia: 88 Ribu Pemberontak Tewas

Menteri pertahanan Rusia mengatakan hampir 88 ribu pemberontak telah tewas di Suriah. Angka tersebut muncul selama tiga tahun sejak intervensi Moskow untuk mendukung pasukan pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad. Pemberontak yang dimaksud terdiri dari relawan yang datang dari negara lain, warga Suriah yang memberontak, dan mereka yang mengatasnamakan ISIS, yang didukung Amerika Serikat dan sekutu Barat lainnya.

“Selama operasi, total lebih dari 87.500 pemberontak telah dieliminasi, 1.411 pemukiman dan lebih dari 95 persen wilayah Suriah telah dibebaskan,” ungkap Menteri Pertahanan Rusia, Jenderal Sergei Shoigu dari sebuah forum di Singapura dalam sebuah pernyataan kementerian, seperti dikutip AFP. “Sebagian besar pemberontak telah dihancurkan,” kata Shoigu.

Kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Pada Agustus 2018 mengungkapkan, seperti dilansir laman BBC, hampir 365.000 orang tewas selama perang sipil tujuh tahun itu termasuk di dalamnya 110.613 warga sipil.

Angka itu tidak termasuk 56.900 orang yang dikatakan hilang dan diduga tewas. Kelompok itu juga memperkirakan 100.000 kematian belum didokumentasikan.

Sementara itu, Pusat Dokumentasi Pelanggaran, yang bergantung pada aktivis di dalam Suriah, telah mencatat apa yang dianggap pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan hukum HAM, termasuk serangan terhadap warga sipil. Mereka telah mendokumentasikan 189.654 kematian terkait perang, termasuk 121.933 warga sipil, pada Juni 2018.

Postcomended   Saudi Ancam Para Pengancamnya dengan Pembalasan Lebih Besar

Rusia meluncurkan serangan untuk mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad pada September 2015. “Pasukan udara Rusia telah melakukan lebih dari 40.000 misi pemboman, mencapai sekitar 120.000 target infrastruktur “teroris”, kata Shoigu. Shoigu mengatakan bahwa angkatan bersenjata Suriah saat ini mengontrol wilayah di mana lebih dari 90 persen penduduknya masih hidup.

Perang sipil Suriah awalnya merupakan pemberontakan damai terhadap Presiden Suriah tujuh tahun lalu yang berubah menjadi perang sipil skala penuh. Pemberontakan dipicu kondisi pengangguran yang tinggi, korupsi, dan kurangnya kebebasan politik di bawah Presiden Bashar al-Assad, yang menggantikan ayahnya Hafez al-Assad setelah ia meninggal pada 2000.

Pada Maret 2011, demonstrasi pro-demokrasi meletus di kota selatan Deraa, terinspirasi oleh “Arab Spring” yang melanda negara-negara tetangga yang berhasil mendongkel pimpinan-pimpinan sebelumnya, misalnya seperti yang terjadi di Mesir dan Libya.

Rezim Assad yang cemas akan mengalami nasib sama dengan negara-negara tetangganya, menindak para demonstran secara represif. Kerusuhan pun menyebar dan penindasan semakin intensif.

Postcomended   Migran Honduras, dan Bom untuk Soros, Obama, dan Clinton

Para pendukung oposisi –yang didudupi ISIS– mengangkat senjata, pertama-tama untuk membela diri namun kemudian menguasai daerah-daerah. Assad pun bersumpah untuk menghancurkan apa yang disebutnya “terorisme yang didukung asing”. Kekerasan dengan cepat meningkat dan negara itu jatuh ke dalam perang sipil berkepanjangan.

Intervensi negara asing membuat situasi menjadi jauh lebih kompleks dan memperpanjang pertempuran. Mereka dituduh telah membina kebencian antara kelompok agama di Suriah, mengadu domba mayoritas Muslim Sunni melawan sekte Syiah Alawite yang dianut Assad.

Warga Suriah terpecah antara yang mendukung pemerintahan sah Assad dengan kaum pemberontak. Pemerintahan sah didukung Rusia dan Iran, sementara AS (dan Barat pada umumnya plus Israel), serta sekutu Timur Tengahnya; Turki dan Arab Saudi; mendukung para pemberontak.

ISIS dan al-Qaeda yang dibiarkan ikut “bermain”, menambah tajam perselisihan. Suku Kurdi Suriah, yang menginginkan pemisahan untuk pemerintahan sendiri dari Suriah, juga memanfaatkan situasi dan menambahkan dimensi lain pada konflik.

Sejumlah negara pendukung yang ikut memperkeruh situasi Suriah mengalami konflik kepentingan. AS yang aktif membasmi ISIS di Irak, secara tidak langsung mendukung ISIS di Suriah yang berada di pihak oposisi/pemberontak yang didukungnya. Turki yang menentang Kurdi di negerinya, berada di posisi sama, yakni mendukung para pemberontak.***

Postcomended   Sebuah Rekaman Mengungkap Donald Trump Akui Ivana Ingin Singkirkan Adik Tirinya

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top