Museum De Matta Yogyakarya menampilkan display Hitler berlatar Kamp Auschwitz (http://ww3.hdnux.com/photos/67/32/21/14525518/3/1024×1024.jpg)

Yogyakarta mendapat sorotan dari organisasi hak asasi internasional dan lembaga Yahudi Amerika Serikat (AS), Simon Wiesenthal Center, ketika satu foto selfie sampai kepada kesadaran mereka. Foto itu menunjukkan sejumlah remaja tersenyum dengan latar belakang patung lilin Hitler yang seolah sedang berpose di depan pintu gerbang kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau. Di lokasi ini lebih dari sejuta orang Yahudi dibantai oleh Nazi.

Situs CBSNews menulis, gambar Hitler tersebut terdapat di museum lilin dan efek visual di Yogyakarta, satu kota di Indonesia yang dikenal dengan universitas, budaya Jawa, dan sebagai tempat kesultanan yang bersejarah. Museum bernama De Matta ini menampilkan efek-efek visual yang disukai remaja.

Human Rights Watch (HRW) mengecam display tersebut di museum itu sebagai “memuakkan”. Sementara Simon Wiesenthal Center (SWC) menuntut penghapusan display itu segera. SWC adalah yayasan yang melakukan kampanye melawan penyangkalan Holocaust dan anti-Semitisme yang berbasis di Los Angeles, AS.

“Segala sesuatu tentang ini (kamp Auschwitz dan Hitler) adalah salah. Sulit menemukan kata-kata mengenai bagaimana menghinanya ini,” kata Rabi Abraham Cooper, pimpinan SWC. “Latar belakangnya menjijikkan, mengolok-olok korban yang masuk dan tidak pernah keluar lagi.”

Postcomended   Pacari Muslim, Remaja Israel Tewas di Tangan Ayahnya

Patung lilin tersebut, demikian CBSNews, menunjukkan Hitler seolah sosok yang mengesankan dan dominan, bertentangan dengan citra seorang yang sempat kecanduan narkoba dan melakukan bunuh diri pada 30 April 1945 saat pasukan Rusia menguasai ibukota Jerman, Berlin.

Di belakang karya lilin tersebut ada gambar raksasa kamp Auschwitz lengkap dengan slogan “Arbeit Macht Frei”; pekerjaan membuat Anda bebas, yang tertulis di pintu masuk Auschwitz dan kamp-kamp lainnya di mana jutaan orang Yahudi dan orang-orang lain secara sistematis terbunuh selama masa perang Jerman di sebagian besar wilayah Eropa. Di sisi lain, ada patung lilin Darth Vader yang berhadap-hadapan dengan patung lilin Presiden Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo.

Ini bukan pertama kalinya Nazisme dan simbol-simbolnya dinormalisasi atau bahkan diidealkan di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan merupakan rumah bagi komunitas Yahudi kecil, tulis CBSNews.

Sebuah kafe bertema Nazi di kota Bandung, di mana pelayannya mengenakan seragam SS, menyebabkan kemarahan di luar negeri selama beberapa tahun, sampai akhirnya dilaporkan kafe ini ditutup pada awal 2017.

Postcomended   7 Oktober dalam Sejarah: Tahanan Yahudi di Auschwitz Memberontak Ingin Ledakkan Kamar Gas

Pada 2014, satu video musik yang dibuat oleh bintang pop Indonesia (Ahmad Dhani) sebagai penghormatan kepada calon presiden Prabowo Subianto, menimbulkan kemarahan di luar negeri karena menampilkan nuansa Nazi.

Warli, pegawai pemasaran museum De Matta, mengatakan, dia mengetahui bahwa Hitler bertanggung jawab atas pembunuhan massal. Akan tetapi dia membela patung lilin tersebut yang dipamerkan sejak  2014, sebagai salah satu tokoh favorit bagi pengunjung untuk sekadar bersenang-senang.

“Tidak ada pengunjung yang mengeluhkannya. Sebagian besar pengunjung kami bersenang-senang karena mereka tahu ini hanya museum hiburan,” katanya. Warli tidak pernah mendengar tentang SWC namun mengatakan bahwa dia akan mendiskusikan permintaan SWC dengan pemilik De Mata, Peter Kusuma, dan dengan manajemennya, untuk menghapus display tersebut.

Cooper mengatakan, tidak dapat dimaafkan bahwa bisnis sengaja menggunakan Nazisme dan Holocaust untuk menghasilkan uang, dan menyesalkan adanya pemutusan dengan sejarah. Cooper lalu mewacanakan kemungkinan Hitler akan melakukan hal sama terhadap orang-orang di Asia setelah selesai dengan Eropa.

Peneliti HRW di Indonesia, Andreas Harsono, mengatakan, patung lilin dan gambar latar belakang kamp konsentrasi tersebut memuakkan, dan mencerminkan bahwa sentimen anti-Yahudi di Indonesia lebih luas daripada yang secara umum diapresiasi.

Postcomended   Pangeran Saudi Gondrong Ini pun Diborgol

Andreas mengatakan, konflik antara Israel dan Palestina telah memberi bahan bakar pada anti-Semitisme di Indonesia selama beberapa dekade. Namun kata dia, prasangka tersebut memiliki akar yang lebih dalam dalam interpretasi Alquran yang sempit.***