Diantara banyaknya wisata religi di Indonesia, ziarah ke makam Walisongo masih menjadi favorit masyarakat. Maklum, Walisongo adalah penyebar agama Islam di Tanah Air, khususnya Pulau Jawa. Kiprah Sembilan Wali terdengar hingga penjuru Asia Tenggara.

Tak heran jika makam para Sunan yang tergabung dalam Walisongo selalu ramai. Seperti halnya di Bulan Ramadan. Dampaknya luar biasa. Karena langsung dirasakan warga sekitar. perekonomian warga terbantu, infrastruktur sekitar makam pun berkembang

“Wisata ziarah selalu menjadi fenomena. Kondisi ini terus berlanjut di Bulan Ramadan. Ziarah makam Walisongo sejauh ini bisa mendatangkan wisatawan yang besar. Ada perputaran ekonomi yang sangat menjanjikan dalam setahun,” ungkap Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Sabtu (19/5).

Mengacu data Kemenpar 2014, makam Walisongo mampu menarik banyak wisatawan untuk berziarah. Dalam setahun, total kunjungan wisatawan nusantara yang berziarah mencapai 12,2 juta orang. Lebih menarik lagi, ada sekitar 3.000 wisatawan mancanegara yang juga berkunjung ke makam Walisongo.

“Dari wisata ziarah, sebenarnya ada aktivitas ekonomi yang menarik. Jumlahnya besar dan pasti terus berkembang setiap tahunnya seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan,” jelas Menpar.

Sepanjang periode 2014 silam, peta kunjungan wisatawan cukup merata di makam Sembilan Wali. Makam Sunan Ampel membukukan jumlah kunjungan peziarah terbesar hingga 1,9 juta orang. Untuk makam Sunan Kalijaga dikunjungi 1,6 juta peziarah. Urutan berikutnya makam Sunan Drajat, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Giri, dan Sunan Muria.

Postcomended   Hati-hati, Gegar Otak Bisa Menjadi Pemicu Parkinson

“Makam Walisongo ini luar biasa. Bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Selalu ada yang bermanfaat bagi umat,” jelas Menpar lagi.

Banyaknya peziarah yang datang memang menggerakan ekonomi masyarakat sekitar. Mereka mendapat income dari aktivitas kuliner, penginapan, wisata belanja. Termasuk juga lahan parkir dan toilet umum. Lebih menarik lagi, rata-rata durasi lama kunjungan peziarah mencapai setengah hari. Pada momen tertentu, lama waktu kunjungan bahkan mencapai 2-3 hari.

Durasi waktu menetap lebih panjang diberikan dari kalangan akademisi. Sebab, mereka juga melakukan berbagai penelitian. Para akademisi bisa menetap hingga 2 pekan. Lalu, jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat pada bulan Sya’ban atau sebelum Ramadan. Wisatawan juga akan memadati area makam di acara haul, akhir pekan, juga hari tertentu menurut Kalender Jawa.

Postcomended   Batik Air “Membatik” Labuan Bajo NTT dengan Rute Baru dari Jakarta

“Ada lini-lini bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat terkait dengan kunjungan para peziarah ini. Apalagi, pada momen-momen besar tertentu. Pergerakan perekenomian masyarakat akan kencang. Ini tentu menjadi berkah,” kata Menpar lagi.

Secara garis ada 3 kelompok wisatawan yang ziarah ke makam Walisongo. Ada wisatawan yang berbasis kelompok pengajian atau pengikut tarekat. Selain itu, wisatawan yang berkunjung karena memiliki minat kepada budaya dan sejarah. Kelompok terakhir adalah mereka wisatawan yang berminat terhadap pengetahuan tertentu.

“Wisatawan yang berkunjung ke makam Walisongo memiliki berbagai tujuan. Selain murni ziarah, ada juga yang tertarik terhadap budayanya. Ada juga yang datang untuk mengembangkan pengetahuan. Bukan hanya wisatawan nusantara, mereka yang dari mancanegara juga tertarik untuk hal-hal tertentu,” tuturnya lagi.

Karakter wisatawan mancanegara yang berkunjung memang berbeda. Wisatawan Malaysia misalnya. Mereka memiliki basis kelompok pengajian dan tarekat. Mereka juga memiliki karakter dan minat berkunjung ke makam. Untuk dua karakter lainnya didominasi wisatawan Singapura, Brunei Darussalam, Tiongkok, Yaman, Turki, hingga India. Mereka tertarik pada warisan budayanya.

Postcomended   Festival Indonesia Festival 2018 Bertajuk Perayaan Kehidupan

“Apapun tujuan dari kunjungan wisatawan, pengemasan konsep wisata ziarah ini harus diperbaiki dan disempurnakan lagi. Pengembangan setiap tahun memang harus dilakukan. Terutama untuk terus mendorong pertumbuhan wisata ziarah. Hal itu harus dioptimalkan lagi,” tutupnya. (*)

Share the knowledge