Zlatan Ibrahimovic, Sang Raja Tanpa Mahkota

Zlatan Ibrahimovic, Sang Raja Tanpa Mahkota

Sport
Share the knowledge

Penghargaan pemain terbaik dunia FIFA digelar sejak tahun 1991, dengan pemain Jerman Lothar Matthaeus yang saat itu memperkuat Inter Milan sebagai pemenangnya, dengan pertimbangan ikut membawa Inter menjuarai Piala UEFA (sekarang menjadi Liga Europa) pada musim 1990-1991, dan pada edisi terakhir yaitu pada tahun 2009 Lionel Messi menjadi pemenangnya setelah ikut membawa  FC Barcelona memenangi treble pada musim 2008-2009.

Kemudian ajang tersebut diganti dengan FIFA Ballon d’Or yang digelar 6 kali sejak tahun 2010 hingga tahun 2015, dengan Lionel Messi meraih sebanyak 4 kali dan Cristiano Ronaldo sebanyak 2 kali, dan sejak tahun 2016 hingga sekarang berubah menjadi Pemain Pria Terbaik FIFA 

dengan Lionel Messi sebagai peraih gelar yang terakhir digelar yaitu tahun 2019, setelah sempat “lepas” dari “aksi borong gelar” Lionel Messi – Cristiano Ronaldo setelah Luka Modric memenangkan gelar tersebut pada tahun 2018.

Dari sekian banyak pemain yang bertarung dalam gelar tersebut, menurut saya ada satu nama yang “seharusnya” mendapatkan paling tidak satu gelar tersebut, namun hingga saat ini belum (atau bahkan tidak pernah) meraih gelar pemain terbaik, meskipun mempunyai Personal Achievement yang luar biasa, dia adalah Zlatan Ibrahimovic, Raksasa, Natural Born Killer di kotak penalti, si arogan, sang raja di lapangan hijau.

berbekal tinggi badan yang mencapai 195 cm, dengan mudah melahap bola tinggi, dan dengan bekal sabuk hitam Taekwondo, dia juga sering melakukan aksi-aksi akrobatik ketika mencetak gol.

Postcomended   Tersadar Setelah Operasi Jantung, Arnold Schwarzenegger: “I’m Back!”

Namun selama ini penilaian terhadap pemain terbaik dunia dinilai hanya dari satu musim saja, menurut saya, pemain sepakbola yang memiliki pencapaian yang tinggi juga berhak mendapatkan gelar tersebut.

Zlatan Ibrahimovic sudah memberikan gelar juara terhadap klub-klub yang dibelanya, baik level domestik maupun regional, Ajax Amsterdam,  Juventus (meskipun akhirnya dianulir karena kasus Calciopoli), Inter Milan, AC Milan, hingga Paris St Germain dibawa meraih gelar liga domestik, dan Manchester United pun dibawa meraih gelar juara Liga Europa.

Banyaknya tropi yang dimenangkan oleh Ibra (begitu biasa dipanggil), ternyata tidak membawa dia meraih penghargaan pemain terbaik dunia, atau Eropa setidaknya. Banyak pihak yang beranggapan Ibra kurang beruntung karena bermain di era yang sama dengan Thiery Henry, Ronaldinho, dan juga duo Messi-Ronaldo.

Prstasi individu seorang Ibra cukup mentereng, menjadi top skorer di Serie A bersama duo Inter – AC milan, di Ligue 1 bersama Paris St Germain, kemudian bersama Tim Nasional Swedia mencetak Quattrick (meskipun dalam pertandingan persahabatan) ke gawang Inggris yang dikawal Joe Hart, untuk kemudian menang dengan skor 4-2.

Postcomended   Ketika Mike Tyson Mengenang Bisikan Muhammad Ali

Belum lagi aksi-aksi tidak egoisnya ketika bersama AC Milan, terutama di musim 2011-2012, ketika itu bahkan Kevin-Prince Boateng dan Antonio Nocerino bahkan mampu mencetak dua digit gol dalam satu musim bersama AC Milan, oleh karena banyak menerima kontribusi dari Ibra.

Ketika Ibra hengkang di musim berikutnya baik Boateng maupun Nocerino keran golnya mulai tersumbat, dan turun drastis, dan sejak musim tersebut AC Milan semakin menghilang dari kekuatan besar sepakbola Eropa.

Postcomended   Brighton Zeuner, Remaja yang Telah Diprediksi Juara Dunia di Olimpiade Tokyo

Demikian tulisan saya, bagaimana menurut saya seorang Zlatan Ibrahimovic sangat layak untuk mendapatkan gelar pemain terbaik dunia FIFA di akhir karirnya untuk penghormatan atas pencapaiannya. Selama Ibra belum meraih gelar tersebut, dia masihlah “Seorang Raja Tanpa Mahkota“.


Share the knowledge

Leave a Reply