https://static.euronews.com/articles/360099/684x384_360099.jpg

Kabar bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, tewas pada Juli 2017, kembali mentah. Baghdadi akhirnya memecah keheningan 11 bulannya dengan sebuah pesan audio yang panjang yang mengolok-olok Amerika Serikat (AS). Dalam pesan audio itu dia juga meminta para “jihadis” melakukan rally melawan rezim Suriah, dan berkeras bahwa ISIS masih ada meskipun dengan cepat kehilangan wilayahnya.

Seorang juru bicara Direktur Intelijen Nasional AS mengatakan kepada CNN bahwa pihaknya tahu rekaman audio itu dimaksudkan agar AS mengambil langkah untuk memeriksa Baghdadi. “Meskipun kami tidak memiliki alasan untuk meragukan keasliannya, kami tidak memiliki verifikasinya saat ini.”

Pidato Baghdadi tersebut tampaknya direkam baru-baru ini, karena merujuk pada ancaman nuklir Korea Utara terhadap Jepang dan AS, serta perundingan damai Suriah, di mana Rusia, Turki dan Iran mencoba memperpanjang gencatan senjata di Suriah.

Rilis rekaman tersebut tampaknya terkait klaim militer Rusia yang menyatakan mereka hampir pasti membunuh Baghdadi dalam sebuah serangan udara di dekat Raqqa pada 28 Mei 2017.

Postcomended   AS Pindahkan Kedutaannya ke Yerusalem, Presiden RI: Ini Melanggar Resolusi PBB

Pejabat AS mengatakan, ISIS sebagian besar telah dipaksa keluar dari Raqqa dan juga Mosul, dan Baghdadi mungkin berada di suatu tempat di tengah Sungai Efrat. Ini adalah wilayah yang membentang di perbatasan Suriah dengan Irak, yang sebagian besar kepemimpinan kelompoknya diperkirakan telah direlokasi awal tahun ini.

Kolonel Angkatan Darat AS Ryan Dillon, juru bicara Operasi Inherent Resolve, mengatakan kepada wartawan, Kamis (28/9/2017) di Pentagon melalui telekonferensi dari Baghdad, bahwa tanpa bukti kematiannya, pihaknya akan terus menganggap dia masih hidup.

Dalam pesan 46 menit itu, Baghdadi mendesak pejuang (“mujahidin”) untuk tetap tekun, dan menunjukkan bahwa pertumpahan darah di Mosul, Raqqa dan tempat lain tidak sia-sia “dengan melawan ‘pedang yang bersinar’ dan menumpahkan ‘darah kotor’.”

Dia mengakui serangan jihadis di seluruh dunia, dan mengklaim bahwa “Amerika, Eropa dan Rusia kini hidup dalam keadaan terteror, sebut sebuah terjemahan yang diberikan oleh SITE Intelligence Group, yang melacak keberadaan kelompok jihad ini.

Postcomended   Antisipasi Terorisme Jelang SEAG, Malaysia Tangkap 400 Imigran Termasuk WNI

Baghdadi juga mengumpulkan Muslim Sunni untuk melawan Syiah, mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah menerima “solusi setengah-setengah”, terutama setelah semua kehancuran yang mereka perbuat dan keuntungan yang mereka dapat. Hal ini tampaknya menjadi referensi bagi pencapaian pengaruh Iran yang terus meningkat di seluruh wilayah ini.

Menanggapi pidato Baghdadi, Hassan Hassan, seorang penulis buku tentang kebangkitan ISIS, bercuit via akun Twitternya. Dia mengatakan bahwa tema utama pidato Baghdadi adalah bahwa dia melihat pertarungan ISIS sebagai “perang yang tiada hentinya untuk menguras habis musuh.”

Baghdadi mengatakan AS telah menderita kelelahan dan Rusia telah mengambil alih kendali situasi Suriah.

Baghdadi juga menggemakan pesan pemimpin ISIS lainnya, Abu Mohammad al-Adnani, yang terbunuh pada 2016 ,yang menyatakan bahwa menguasai satu wilayah itu tidak lebih penting daripada keinginan untuk berperang.

Dalam pidatonya, Baghdadi mengutip kisah Nabi Muhammad yang tidak memberi tahu teman-temannya kapan atau bagaimana Islam akan menang, “Sehingga mereka tidak menjadikan kemenangan atau kekalahan bergantung pada kehilangan wilayah atau pada beberapa orang kepercayaan yang dibunuh.”

Postcomended   Irma Ciptakan Eksodus Masal Terbesar dalam Sejarah Amerika

Kekuatan udara AS dan Rusia, serta berbagai kekuatan gerilya, masih aktif di Suriah, namun ISIS siketahui masih menguasai swjunlah kota di Sungai Efrat.*

 

Share the knowledge